Purwakarta
Trending

415 Orang Terlantar di Kota Tasbih

‎Paling Banyak Orang Lanjut Usia

PURWAKARTA, RAKA – Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Purwakarta mencatat telah menangani 415 kejadian orang terlantar hingga gelandangan dan pengemis sepanjang tahun 2025. Angka tersebut mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebanyak 281 kejadian.

‎Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial dan Dayasosial (Rehdayasos) Dinsos P3A Kabupaten Purwakarta, Imam Munadjat, mengatakan bahwa peningkatan tersebut sekaligus menjadi indikator meningkatnya kualitas pelayanan sosial yang dilakukan pemerintah daerah.

‎“Pada intinya kami terus meningkatkan kualitas pelayanan untuk masyarakat, khususnya bagi orang-orang terlantar,” ujar Imam, Rabu (14/1).

‎Imam menjelaskan, dari total 415 kejadian yang ditangani sepanjang 2025, kategori terlantar lanjut usia menjadi yang paling tinggi dan mengalami lonjakan sangat signifikan. Data Dinsos P3A mencatat, pada 2024 jumlah lansia terlantar hanya sebanyak 88 kejadian, namun pada 2025 melonjak drastis menjadi 223 kejadian, atau meningkat lebih dari 100 persen.

‎“Yang paling besar itu memang terlantar lanjut usia. Dari 88 kejadian pada 2024, meningkat menjadi 223 kejadian di 2025. Itu sangat signifikan,” jelasnya.

‎Selain itu, kasus gelandangan dan pengemis juga mengalami peningkatan cukup tajam, dari 25 kejadian pada 2024 menjadi 71 kejadian pada 2025. Sementara itu, untuk kategori lain justru menunjukkan tren penurunan.

‎“Kalau disabilitas terlantar dan anak terlantar justru mengalami penurunan,” ungkap Imam.

‎Berdasarkan data resmi Dinsos P3A Kabupaten Purwakarta, sepanjang 2025 tercatat penanganan terhadap disabilitas terlantar sebanyak 94 kejadian, anak terlantar 27 kejadian, lanjut usia terlantar 223 kejadian, serta gelandangan dan pengemis sebanyak 71 kejadian, dengan total keseluruhan 415 kejadian.

‎Adapun pada 2024, disabilitas terlantar tercatat 129 kejadian, anak terlantar 39 kejadian, lanjut usia terlantar 88 kejadian, serta gelandangan dan pengemis 25 kejadian, dengan total 281 kejadian.

‎Meski terus meningkatkan pelayanan, Imam tidak memungkiri bahwa pihaknya masih menghadapi sejumlah kendala dalam menangani orang-orang terlantar.

‎“Kalau kendala tentu ada. Yang pertama keterbatasan sarana dan prasarana. Kami belum memiliki rumah singgah,” katanya.

‎Namun demikian, ia menyebutkan bahwa saat ini pembangunan rumah singgah sedang dalam proses dan direncanakan berlokasi di Jalan Kopi, Purwakarta.

‎Selain sarana, keterbatasan sumber daya manusia juga menjadi tantangan tersendiri. “Ada SDM yang baru, ada juga yang pindah atau diterima bekerja di tempat lain. Tapi bagaimanapun kami tetap berusaha meningkatkan proses pelayanan,” ujarnya.

‎Menurut Imam, berbagai kendala tersebut justru menjadi tantangan yang harus diselesaikan. Untuk mengantisipasi lonjakan kasus, pihaknya terus memperkuat koordinasi lintas instansi.

‎“Kami selalu berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, RSUD jika ada kasus meninggal, kemudian dengan Baznas, bagian Kesra, dan Pemerintah Kabupaten Purwakarta,” jelasnya.

‎Ia juga menyebutkan bahwa berdasarkan pengalaman, tren peningkatan orang terlantar biasanya terjadi menjelang bulan Ramadan, meskipun pihaknya belum dapat memastikan kondisi tersebut akan kembali terjadi pada 2026.

‎Imam menegaskan bahwa tantangan terberat Dinsos P3A adalah menangani orang-orang terlantar lintas wilayah, baik yang datang ke Purwakarta dari daerah lain maupun warga Purwakarta yang ditemukan terlantar di wilayah lain.

‎“Itu tugas terberat kami, menangani orang terlantar baik dari dalam wilayah maupun luar wilayah. Tapi ini memang menjadi tanggung jawab kami,” pungkasnya. (yat)

Related Articles

Back to top button