KARAWANG, RAKA – Sebanyak 59 desa yang tersebar di 13 kecamatan di Kabupaten Karawang saat ini mengalami kekeringan pada lahan persawahan. Kondisi tersebut dipicu rusaknya sejumlah saluran irigasi sekunder yang menghambat distribusi air ke areal pertanian.
Kepala Bidang Sarana Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKP) Kabupaten Karawang, Mahmud mengatakan, kekeringan yang terjadi bukan disebabkan oleh fenomena El Nino maupun musim kemarau ekstrem, melainkan akibat kerusakan infrastruktur irigasi.
“Lahan sawah yang terdampak kekeringan berada di 59 desa dari 13 kecamatan. Penyebabnya bukan El Nino, tetapi karena saluran sekunder yang mengalami kerusakan sehingga pasokan air ke sawah terganggu,”katanya, Kamis (11/6).
Menurutnya, pemerintah daerah saat ini tengah berupaya mendorong perbaikan saluran irigasi yang rusak dengan berkoordinasi bersama Bidang Prasarana. Usulan perbaikan tersebut akan disampaikan kepada pemerintah pusat dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) agar penanganan dapat dilakukan secara menyeluruh.
“Untuk solusi jangka panjang, kami berkoordinasi melalui Bidang Prasarana guna mendorong perbaikan ke Kementerian dan BBWS,” terangnya.
Sementara itu, untuk mengantisipasi dampak kekeringan terhadap tanaman padi, DPKP melakukan langkah cepat melalui program pompanisasi dengan memanfaatkan peralatan yang dimiliki. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan air di lahan pertanian tetap terpenuhi.
“Solusi jangka pendek yang kami lakukan adalah sistem pompanisasi menggunakan alat yang tersedia. Sejauh ini kondisi masih dapat diatasi,” jelasnya.
Meski puluhan desa terdampak kekeringan, Mahmud memastikan hingga saat ini belum ada laporan gagal panen akibat berkurangnya pasokan air. Pemerintah daerah terus melakukan pemantauan dan penanganan agar produktivitas pertanian Karawang tetap terjaga. (zal)



