
KARAWANG, RAKA– Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan kepada dunia bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pangan. Pengumuman bersejarah tersebut disampaikan Presiden saat menghadiri acara Panen Raya Nasional di sentra pertanian Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang, pada Rabu (7/1).
Kegiatan yang dihadiri sekitar 6.000 petani itu menjadi tonggak sejarah baru bagi Indonesia, karena untuk pertama kalinya Tanah Air tidak lagi mengimpor beras dan berhasil mewujudkan swasembada pangan pada 2025. Capaian ini juga ditandai dengan cadangan beras nasional yang mencapai 3 juta ton pada tahun ini.
Presiden Prabowo tiba di lokasi acara sekitar pukul 11.13 WIB dengan mengenakan pakaian safari berwarna krem. Dari atas kendaraan, Presiden menyapa masyarakat dan para petani yang telah memadati area Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden didampingi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Hediyati Soeharto, serta Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Untuk menjaga keberlanjutan swasembada pangan, Pemerintah melalui Kementerian Pertanian juga resmi membentuk 33 Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian yang tersebar di 33 provinsi. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 39 Tahun 2025.
Balai Besar tersebut berada di bawah koordinasi Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) dan bertugas mengoordinasikan serta melaksanakan penerapan teknologi pertanian spesifik lokasi.
Kepala BRMP Fadjry Djufry mengatakan, bahwa pembentukan Balai Besar ini merupakan peningkatan status dari Balai Penerapan Modernisasi Pertanian yang telah ada sebelumnya.
“Dengan jaringan kerja dari pusat hingga daerah, BRMP berperan penting dalam percepatan modernisasi sektor pertanian melalui inovasi teknologi, penerapan standar mutu, dan penguatan kelembagaan,”katanya.
Selain melakukan identifikasi, perekayasaan, dan diseminasi teknologi pertanian, Balai Besar ini juga akan memproduksi benih dan bibit sumber unggul serta tersertifikasi guna meningkatkan produktivitas pertanian nasional.
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa modernisasi dan pemanfaatan teknologi merupakan kunci utama peningkatan produksi pangan.
Menurutnya, penerapan teknologi mampu meningkatkan produktivitas secara efisien sekaligus menurunkan biaya produksi.
“Kita tidak boleh setengah-setengah dalam meningkatkan produksi pangan. Semua harus berbasis inovasi dan teknologi. Inilah transformasi dari pertanian tradisional menuju mekanisasi penuh,” tegasnya. (zal)



