
PURWAKARTA, RAKA – Warga Desa Kutamanah, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, berhasil mengolah tanaman liar eceng gondok menjadi beragam produk kerajinan bernilai jual.
Dari tangan-tangan terampil masyarakat, eceng gondok yang biasanya dianggap gulma di perairan Waduk Jatiluhur, kini berubah menjadi tas, tikar, tempat tisu, hingga aneka hiasan rumah tangga.
Kepala Desa Kutamanah, Asep Samsudin, menjelaskan bahwa kerajinan dari eceng gondok merupakan bagian dari upaya desa untuk meningkatkan ekonomi kreatif masyarakat.
“Selama ini eceng gondok dianggap masalah karena tumbuh liar dan menutup permukaan air. Kami mencoba melihatnya sebagai peluang. Alhamdulillah sekarang bisa menjadi produk kerajinan yang laku dijual,” ujarnya.
Menurut Asep, pengolahan eceng gondok menjadi kerajinan telah melibatkan kelompok ibu-ibu PKK dan pemuda desa. Mereka dilatih mulai dari teknik pengeringan, penganyaman, hingga finishing agar produk terlihat menarik.
“Produk ini sudah ada yang dipasarkan di Purwakarta bahkan ke luar daerah. Kami berharap bisa terus berkembang dengan dukungan pemerintah daerah maupun pihak swasta,” tambahnya.
Kerajinan eceng gondok tidak hanya membantu menambah pendapatan keluarga, tetapi juga sekaligus menjaga ekosistem. Dengan memanfaatkan tanaman yang sering merusak aliran air ini, jumlah eceng gondok di waduk dapat ditekan.
“Manfaatnya ganda, lingkungan lebih terjaga dan ekonomi masyarakat ikut meningkat,” kata Asep.
Seorang pengrajin, Yani (42), mengaku senang dengan adanya pelatihan dan pendampingan dari desa. “Awalnya saya tidak tahu kalau eceng gondok bisa dibuat jadi tas dan tikar. Setelah belajar, ternyata hasilnya bagus sekali. Ada pembeli dari Bandung yang sudah pesan dalam jumlah banyak,” ungkapnya.
Produk kerajinan eceng gondok dari Kutamanah kini juga dipamerkan di berbagai acara lokal, termasuk pameran UMKM tingkat kabupaten. Banyak pengunjung yang tertarik karena desainnya unik, ramah lingkungan, dan harganya terjangkau.
Dengan semangat warga dan dukungan pemerintah desa, Kutamanah bertekad menjadikan kerajinan eceng gondok sebagai ikon lokal yang mendukung desa wisata.
“Kami ingin Desa Kutamanah dikenal bukan hanya karena panorama alamnya seperti Parang Gombong, tetapi juga karena produk kreatifnya. Kerajinan eceng gondok adalah salah satu langkah menuju kemandirian ekonomi desa,” pungkas Asep. (yat)



