
KARAWANG,RAKA- Air masih menggenangi sejumlah wilayah di Kabupaten Karawang hingga, Selasa (20/1). Sedikitnya, 2.413 warga terdampak banjir mengungsi. Kebutuhan logistik mendesak untuk membantu warga.
Kabupaten Karawang mengalami banjir cukup besar di awal tahun 2026 ini. Ada 12 kecamatan di 26 desa yang terendam banjir. Sebanyak 4.304 kepala keluarga terdampak dan 2.413 jiwa mengungsi.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang per tanggal 19 Januari 2026, sebanyak 3.163 unit rumah warga terendam banjir dan tersebar di 12 kecamatan.
Petugas BPBD masih berupaya mencari warga yang terjebak banjir dan mengevakuasi ke tempat pengungsian. Banjir merendam 12 kecamatan yaitu Kecamatan Karawang Timur berdampak 9 kepala keluarga dan 59 jiwa. Kemudian Kecamatan Telukjambe Timur terhitung berdampak sejumlah 335 kepala keluarga dan 1.099 jiwa.
Kecamatan Pangkalan paling tidak terdampak terhadap warga sekitar. Kemudian Kecamatan Telukjambe Barat terdampak 855 kepala keluarga dan 2.562 jiwa. Kecamatan Karawang Barat terdampak 40 kepala keluarga dan 175 jiwa.
Kecamatan Jayakerta terdampak 40 kepala keluarga dan 135 jiwa. Kecamatan Cilebar terdampak 243 kepala keluarga dan 726 jiwa. Kecamatan Rawamerta berdampak 25 kepala keluarga dan 74 jiwa.
Kecamatan Rengasdengklok berdampak 165 kepala keluarga dan 495 jiwa. Kecamatan Lemahabang terdampak 5 kepala keluarga dan 14 jiwa. Kecamatan Cilamaya Wetan berdampak 31 kepala keluarga dan 94 jiwa. Kecamatan Klari berdampak 102 kepala keluarga dan 394 jiwa.
BPBD Karawang juga menyebut, saat ini kebutuhan mendesak berupa logistik permakanan dan minuman, selimut dan terpal. Sementara, titik pengungsian terdapat di kantor Kelurahan Tanjungpura, ruko Karaba, jalan pemancingan Ajo dan ruko Tupperware.
Sebelumnya, salah seorang warga Desa Karangligar, Amin (29), mengatakan banjir di wilayahnya sudah terjadi sejak Sabtu (17/1). Sejak awal, warga terdampak telah mengungsi di posko pengungsian yang disiapkan di halaman kantor desa. Namun, seiring meningkatnya debit air, banjir kembali meluas hingga merendam lokasi posko.
“Awalnya kami mengungsi di posko di kantor desa. Tapi Senin malam air semakin tinggi dan posko juga ikut terendam, jadi sekarang banyak warga yang terpaksa istirahat di emperan bangunan di sekitar irigasi,” katanya, Senin (19/1).
Ia mengungkapkan, kondisi tersebut sangat tidak nyaman bagi para pengungsi. Selain dingin, banyak warga yang kesulitan beristirahat karena harus tidur di tempat terbuka dengan alas seadanya. Sejumlah warga terlihat tidur beralaskan tikar dan matras tipis di bangunan semi permanen, sementara sebagian lainnya memilih bertahan di teras warung atau bangunan kosong.
Amin menambahkan, hingga saat ini bantuan yang diterima warga sebagian besar berupa makanan. Bantuan tersebut berasal dari Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialihkan untuk warga terdampak banjir, lantaran kegiatan belajar mengajar di sekolah dihentikan sementara akibat sekolah terendam banjir.
“Bantuannya sejauh ini baru makanan saja. Itu pun dari MBG karena anak-anak sekolah tidak masuk akibat sekolah kebanjiran,” ujarnya.(asy/zal)



