Mengenal Tradisi Nadran Laut dan Baritan di Desa Sukakerta Karawang yang Masih Lestari

KARAWANG, RAKA – Di tengah arus modernisasi yang terus mengalir ke pelosok desa, Desa Sukakerta tetap menjaga denyut nadi tradisinya yang telah mengakar kuat selama bertahun-tahun.
Desa pesisir yang berada di wilayah Kecamatan Cilamaya Wetan ini bukan hanya dikenal karena hasil laut dan pertaniannya, tetapi juga karena kekayaan budaya dan semangat kebersamaannya.
Sekretaris Desa Sukakerta, Kartaman, menjelaskan bahwa hingga kini, masyarakat desa masih setia melestarikan dua tradisi adat utama, yakni Nadran Laut dan Baritan.
Dua tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari warisan leluhur, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan rasa syukur warga terhadap alam dan Sang Pencipta.
Nadran Laut, atau sering disebut juga Sedekah Laut, adalah upacara adat yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali, biasanya pada bulan Juni.
Dalam upacara ini, masyarakat nelayan mengarak sesajen berupa hasil bumi, makanan, buah-buahan, dan kadang juga replika kapal (meron) atau bahkan kepala kerbau, lalu melarungnya ke laut.
”Tradisi ini adalah bentuk syukur atas hasil tangkapan laut dan doa bersama untuk keselamatan serta rezeki yang lebih baik di masa mendatang,” terang Kartaman.
Sementara itu, Baritan dilaksanakan setahun sekali, setelah musim panen berakhir, biasanya pada bulan Mei.
Tradisi ini kental dengan nuansa spiritual, dimulai dari doa bersama, tahlilan, hingga makan bersama di area persawahan atau balai desa.
EPAPER RADAR KARAWANG – UPDATE SETIAP HARI
”Baritan itu tidak hanya soal doa, tapi juga soal mempererat tali silaturahmi antarwarga. Semua ikut, semua makan bersama. Ini bentuk syukur kami atas hasil bumi yang diberikan,” kata Kartaman.
Tak hanya tradisi adat, semangat gotong royong di Desa Sukakerta pun masih sangat kuat. Masyarakat secara rutin melaksanakan kegiatan Gorol atau Kalagumarang, yaitu kerja bakti membersihkan saluran air, memperbaiki fasilitas umum, atau menjaga kebersihan lingkungan bersama.
”Kami percaya, pekerjaan yang berat akan terasa ringan kalau dilakukan bersama-sama. Gotong royong itu sudah jadi bagian dari kehidupan kami sejak dulu,” ungkapnya.
Desa Sukakerta hari ini adalah potret desa yang tidak melupakan akar budayanya. Di tengah perubahan zaman, masyarakat tetap mampu menjaga nilai-nilai lokal yang memperkuat identitas desa sekaligus menjadi perekat sosial yang kokoh.
Tradisi seperti Nadran Laut dan Baritan bukan hanya seremoni tahunan, tetapi cermin dari hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Dan di antara itu semua, semangat gotong royong tetap menjadi denyut utama kehidupan warga, sesuatu yang kini mulai langka, namun sangat berharga. (mra)



