Petani Menyusut 7,4 Persen, Pemkab Purwakarta Siapkan Generasi Milenial Lewat Edukasi Pertanian

PURWAKARTA, RAKA – Krisis regenerasi petani menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian nasional. Berdasarkan data Sensus Pertanian BPS 2023, jumlah petani Indonesia menyusut 7,4 persen dalam satu dekade terakhir.
Sekitar 2,35 juta petani tercatat meninggalkan sektor ini, dengan penurunan paling signifikan terjadi pada kelompok usia muda.
Saat ini, sekitar 70 persen petani berada pada kategori usia lanjut. Minimnya minat generasi milenial dan Gen Z terhadap sektor pertanian membuat khawatir berdampak pada ketahanan pangan di masa depan.
Kondisi tersebut turut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Purwakarta. Pemkab menilai, upaya menjaga ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi, tetapi juga harus pembangunan sumber daya manusia di sektor pertanian yang berkelanjutan.
Baca Juga: Masyarakat Kecewa Taman Surawisesa Purwakarta Tampak Tak Terawat
Pemkab Purwakarta menggagas penguatan ekosistem pertanian daerah melalui kolaborasi dengan salah satu perusahaan benih yang berlokasi di Purwakarta. Kerja sama ini fokus pada pengembangan Kebun Istimewa sebagai pusat edukasi dan praktik pertanian, serta implementasi Program Sekolah Berkebun untuk memperkenalkan dasar-dasar pertanian dan rantai pangan kepada siswa sejak dini.
Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, menegaskan bahwa membangun regenerasi petani harus melalui sistem pembelajaran yang relevan dengan tantangan zaman.
“Regenerasi petani itu bukan cuma isu daerah, tapi sudah jadi isu nasional. Ketahanan pangan yang kuat hanya bisa tercapai kalau kita serius membangun SDM dan sistemnya dari sekarang,” ujarnya, Kamis (19/2).
Ia menekankan bahwa investasi di bidang pendidikan dan pelatihan pertanian menjadi fondasi penting untuk mencetak petani muda yang adaptif, inovatif, dan mampu membaca kebutuhan pasar.
Selain menyasar aspek edukasi, penguatan sektor pertanian di Purwakarta juga menyelaraskan potensi hortikultura dengan kebutuhan pasar, termasuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah daerah berharap, pertanian tidak hanya meningkatkan hasil produksi, tetapi juga memperkuat distribusi serta keberlanjutan sistem pangan lokal.
Tonton Juga: Puluhan Rumah Warga Rawagempol Terendam Banjir
Dalam rangkaian agenda tersebut, jajaran Pemkab turut meninjau fasilitas produksi dan riset perusahaan mitra guna melihat proses pengembangan varietas hortikultura yang adaptif terhadap kondisi agroklimat dan kebutuhan petani.
Pihak manajemen perusahaan menyampaikan bahwa peran industri pertanian tidak sebatas penyedia benih.
“Pertanian harus dilihat sebagai ekosistem. Bukan hanya soal inovasi produk, tapi juga edukasi dan keberlanjutan agar tetap relevan untuk generasi berikutnya,” ujarnya.
Pendekatan berbasis ekosistem ini dinilai menjadi model pembangunan pertanian daerah yang lebih komprehensif. Artinya, penguatan sektor pertanian tidak lagi bertumpu semata pada input produksi, melainkan juga pada peningkatan kompetensi, transfer pengetahuan, dan kesiapan generasi penerus. (yat)



