Strategi Peternak Purwakarta Hadapi Harga Sapi Naik: Gratis Perawatan & Jaminan Kesehatan

PURWAKARTA, RAKA – Menurunnya daya beli masyarakat menjelang Hari Raya Idul Adha 2026 membuat sejumlah pedagang sapi kurban di Kabupaten Purwakarta harus memutar strategi agar penjualan tetap berjalan. Salah satu cara yang kini dilakukan peternak adalah memberikan garansi bobot hingga kesehatan sapi demi menjaga kepercayaan pelanggan.
Kondisi tersebut dirasakan langsung Khadapi, pemilik Dafi Farm di Kampung Ciseureuh, Desa Cibodas, Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta. Ia mengaku penjualan sapi kurban tahun ini mengalami penurunan dibanding musim Idul Adha tahun lalu.
“Penjualan memang turun sekitar 20 sampai 30 persen. Kenaikan harga sapi dan pakan cukup berpengaruh terhadap minat pembeli,” ujar Khadapi, Minggu (10/5).
Meski pasar sedang lesu, Dafi Farm tetap menyediakan puluhan sapi kurban dari berbagai jenis. Mulai dari sapi Limosin, Simental, Pegon hingga sapi Madura yang didatangkan dari sejumlah daerah di Pulau Jawa dan Lampung.
Khadapi menjelaskan, tahun ini dirinya menyiapkan 24 ekor sapi untuk kebutuhan kurban. Namun, hingga awal Mei, sekitar 60 persen stok sudah lebih dulu dipesan pelanggan.
Ia mengatakan, sapi dengan harga paling terjangkau dijual mulai Rp23 juta untuk jenis Limosin dan Simental berbobot di bawah 400 kilogram. Sementara sapi premium jenis Simental keturunan asli dengan bobot mencapai 800 kilogram dibanderol hingga Rp75 juta per ekor.
Menurutnya, kenaikan harga sapi tahun ini tidak bisa dihindari karena biaya operasional peternakan ikut meningkat, terutama harga pakan hijauan dan perawatan ternak.
“Kenaikan harga sapi rata-rata antara Rp1 juta sampai Rp4 juta per ekor. Pakan juga sekarang jauh lebih mahal,” katanya.
Untuk mempertahankan minat konsumen, Dafi Farm menawarkan layanan tambahan yang jarang diberikan penjual lain. Sapi yang sudah dibeli tetap dirawat di kandang hingga waktu pengiriman tiba.
Selain itu, pembeli juga mendapatkan garansi kesehatan, garansi kematian, hingga jaminan kestabilan bobot sapi menjelang Idul Adha.
Khadapi menuturkan, apabila bobot sapi mengalami penurunan dalam lima hari sebelum pengiriman, maka harga akan disesuaikan. Sebaliknya, jika bobot sapi bertambah, pelanggan tidak dikenakan biaya tambahan.
“Kalau bobot turun nanti harga kami kurangi, tapi kalau naik tidak ada tambahan biaya untuk pembeli,” ucapnya.
Ia menambahkan, seluruh sapi di kandangnya diberi pakan organik berupa rumput pakcong yang ditanam sendiri karena dinilai memiliki kandungan protein tinggi dan mampu menjaga kualitas ternak.
Meski tren pembelian tahun ini belum sepenuhnya pulih, para peternak di Purwakarta masih optimistis permintaan sapi kurban akan meningkat mendekati Hari Raya Idul Adha, seiring mulai cairnya kebutuhan belanja masyarakat menjelang momen kurban. (yat)



