Karawang
Trending

Kalah Jauh dari Pertanian, Sektor Peternakan Karawang Dinilai Masih Tertinggal

KARAWANG, RAKA – Sektor peternakan di Kabupaten Karawang dinilai masih tertinggal belum siap menjadi sektor unggulan daerah karena masih menghadapi sejumlah persoalan, mulai dari rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) peternak, keterbatasan lahan pakan hingga pola pengelolaan peternakan yang masih dilakukan secara konvensional.

‎Kondisi tersebut membuat pengembangan peternakan di Karawang belum menjadi fokus utama. Pasalnya, daerah yang dikenal sebagai lumbung padi Jawa Barat itu masih mengandalkan sektor pertanian sebagai potensi utama daerah, sementara peternakan sebagian besar dijalankan masyarakat sebagai usaha sampingan.

‎Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Karawang Nani mengatakan, sebagian besar peternak rakyat di Karawang masih menjalankan usaha secara sederhana dengan keterbatasan pengetahuan teknis. ‎

Hal tersebut terlihat dari pengelolaan kandang yang belum sepenuhnya memperhatikan aspek kesehatan ternak maupun sistem budidaya yang sesuai standar.

‎‎Selain itu, menurutnya, semakin menyusutnya lahan hijauan pakan ternak akibat alih fungsi lahan juga menjadi tantangan tersendiri. Di sisi lain, peternak juga dinilai belum banyak memanfaatkan alternatif pakan olahan, seperti jerami fermentasi yang dapat dijadikan sumber pakan mandiri.

‎Nani menilai, peningkatan kualitas SDM peternak menjadi langkah awal yang harus dilakukan apabila sektor peternakan ingin dikembangkan menjadi sektor unggulan di Kabupaten Karawang.

‎”Program bantuan ternak yang selama ini diberikan juga perlu dievaluasi agar hasilnya lebih optimal dan memberikan dampak terhadap perkembangan usaha peternakan masyarakat,”katanya, Senin (18/5).

‎‎Di tengah kebijakan efisiensi anggaran daerah, sambungnya, program bantuan ternak melalui APBD II maupun jalur pokok-pokok pikiran (pokir) disebut tidak menjadi prioritas. Anggaran bidang peternakan saat ini difokuskan untuk mendukung program penurunan angka stunting. ‎

“Salah satu program yang direncanakan yakni pemberian bantuan ayam Sentul kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) yang telah terhubung dengan Posyandu. Program tersebut ditujukan untuk mendukung Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi anak stunting,”terangnya.‎

‎Setiap KWT direncanakan menerima 150 ekor ayam, lanjutnya, terdiri dari 125 ekor betina dan 25 ekor jantan. Tahun ini, program ditargetkan menyasar empat KWT dengan prioritas wilayah yang memiliki angka stunting tinggi. ‎

Diungkapkannya, awalnya Kecamatan Pangkalan menjadi wilayah dengan angka stunting tertinggi. Namun, karena pertimbangan lokasi, program direncanakan difokuskan di Kecamatan Klari untuk tiga KWT dan Kecamatan Majalaya untuk satu KWT. ‎

“Selain bantuan ternak, kelompok penerima juga akan mendapat pendampingan terkait pembuatan pakan mandiri dan sistem pertanian terpadu agar limbah ternak dapat dimanfaatkan menjadi pupuk serta hasil tanaman pekarangan dapat kembali dimanfaatkan sebagai pakan ternak,” tutupnya. (zal)

Related Articles

Back to top button