
radarkarawang.id, Kabupaten Subang saat ini tengah menghadapi krisis lingkungan yang mencekam seiring meluasnya dampak kekeringan ekstrem. Bukan sekadar fenomena cuaca, krisis ini telah melumpuhkan sektor pertanian di wilayah pesisir Pantura hingga dataran tinggi seperti Ciater.
Ratusan hektare sawah yang seharusnya menjadi tumpuan hidup kini berubah menjadi hamparan tanah retak, meninggalkan para petani dalam bayang-bayang kerugian finansial yang masif dan ancaman gagal panen total akibat pasokan irigasi yang terhenti sepenuhnya.
Di Desa Rawamekar, Kecamatan Blanakan, suasana pilu terasa di Blok Tongkor di mana sekitar 100 hektare lahan tak bisa ditanami. Petani seperti Ucim harus menelan pil pahit karena modal jutaan rupiah untuk membajak sawah terancam hangus lantaran tanah kembali mengeras akibat ketiadaan air.
Bibit padi yang sudah disemai pun kini mulai menguning dan terancam mati sebelum sempat ditanam. Kondisi yang kian kritis ini bahkan mulai memicu gesekan sosial di lapangan, di mana sesama petani terpaksa saling berebut sisa-sisa air demi menyelamatkan lahan mereka masing-masing.
Situasi tak kalah genting melanda Desa Sumur Gintung, Pagaden Barat. Kepala Desa Aas Aswati melaporkan setidaknya 260 hektare tanaman padi di empat blok strategis—Maja, Sumur Waru, Cigondok, dan Sawah Bangreung—kini berada di ambang kematian.
Tanpa adanya tindakan darurat dalam waktu dekat, aset ekonomi warga yang menjadi urat nadi desa dipastikan akan musnah. Para petani hanya bisa berharap pada keajaiban dan bantuan nyata dari pemerintah daerah serta pihak terkait untuk segera mengalirkan air ke lahan mereka.
Meski Pemerintah Kabupaten Subang melalui BPBD dan BAZNAS telah bergerak mendistribusikan puluhan ribu liter air bersih dan membangun sumur bor, para petani di Rawamekar dan Sumur Gintung menuntut aksi yang lebih spesifik bagi sektor pertanian.
Kebutuhan mendesak akan bantuan pompa air darurat, normalisasi saluran irigasi oleh Perum Jasa Tirta (PJT) II, serta pembagian debit air yang adil menjadi harapan terakhir warga agar lumbung pangan di Subang tidak lumpuh total di musim kemarau ini. (rk)



