
PURWAKARTA, RAKA – Aktivitas masyarakat di kawasan Tanggul Kayat, Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, kini dibatasi setelah meninggalnya petugas keamanan, Sumarna (42), yang ditemukan tewas saat menjalankan tugas. Pembatasan diberlakukan sebagai langkah pengamanan sementara sembari menunggu proses penyelidikan polisi selesai.
Pantauan di lokasi pada Rabu (29/7/2026) sore menunjukkan suasana Tanggul Kayat jauh berbeda dibanding hari-hari biasanya. Kawasan yang selama ini menjadi tempat favorit warga menikmati panorama Waduk Jatiluhur tampak lengang. Lapak pedagang yang biasa berjejer di sepanjang tanggul juga belum kembali beroperasi.
Petugas keamanan kawasan, Solihin, mengatakan pembatasan aktivitas mulai diterapkan setiap hari sejak pukul 16.00 WIB hingga pagi hari. Sementara pada pagi hari, kawasan kembali dibuka karena masih dimanfaatkan masyarakat untuk berolahraga.
“Mulai pukul 16.00 WIB sampai pagi aktivitas dibatasi. Kalau pagi dibuka lagi seperti biasa karena banyak warga yang olahraga,” ujar Solihin.
Ia menjelaskan, sebelum insiden yang menewaskan Sumarna, kawasan Tanggul Kayat selalu ramai dipadati pengunjung, terutama menjelang sore hingga malam hari. Banyak warga datang untuk bersantai, berfoto dengan latar Waduk Jatiluhur, hingga menikmati kuliner dari pedagang kaki lima.
Namun, sejak peristiwa tersebut terjadi, kawasan untuk sementara disterilkan sehingga aktivitas masyarakat dan pedagang ikut terdampak.
“Biasanya banyak pedagang yang jualan di sini, tapi sekarang disterilkan dulu setelah kejadian kemarin,” katanya.
Menurut Solihin, jumlah pengunjung mengalami penurunan yang cukup signifikan. Meski aktivitas perikanan di kawasan waduk masih berlangsung normal, suasana wisata kini jauh lebih sepi.
“Dulu banyak yang nongkrong dan foto-foto melihat danau. Sekarang pengunjung jauh berkurang,” ucapnya.
Solihin juga mengungkapkan kondisi pengamanan di kawasan objek vital tersebut. Ia menyebut petugas keamanan bekerja dengan sistem tiga regu, yakni shift pagi, shift malam, dan regu libur. Namun, setiap regu hanya terdiri dari satu orang petugas.
Selain itu, hingga saat ini kawasan Tanggul Kayat belum dilengkapi kamera pengawas atau CCTV.
“Di sini memang belum ada CCTV. Setiap regu hanya dijaga satu orang petugas,” ujarnya.
Warga sekitar, Edoy, menilai kondisi kawasan sebenarnya cukup aman pada siang hingga sore hari karena masih banyak aktivitas masyarakat. Namun, situasi berbeda saat malam tiba.
Menurutnya, minimnya penerangan dan lalu lalang orang yang sulit dikenali membuat pengawasan pada malam hari perlu diperketat.
“Kalau malam memang cukup gelap. Orang yang lewat juga kita tidak tahu warga sini atau orang luar. Jadi memang perlu perhatian lebih dari sisi pengamanan,” kata Edoy.
Ia berharap pembatasan aktivitas malam hari dibarengi dengan peningkatan fasilitas keamanan, seperti penambahan lampu penerangan dan pengawasan yang lebih maksimal.
“Kalau bisa setelah pukul 21.00 WIB kawasan ditutup untuk pengunjung. Penerangan ditambah dan pengawasan malam diperkuat supaya lebih aman,” ujarnya.
Hal senada disampaikan warga lainnya, Isnawati. Ia mengaku masih terkejut atas meninggalnya Sumarna dan berharap aparat kepolisian segera mengungkap kasus tersebut agar situasi kembali kondusif.
“Mudah-mudahan pelakunya segera tertangkap supaya keadaan kembali aman. Sekarang kawasan di sini jadi sepi, padahal biasanya sore hari ramai warga dan pedagang,” katanya.
Saat ini, Satreskrim Polres Purwakarta masih terus menyelidiki kasus kematian Sumarna. Polisi telah memeriksa sejumlah saksi, sementara hasil autopsi korban masih dianalisis untuk mengungkap penyebab pasti kematiannya. (yat)



