
PURWAKARTA, RAKA – Sebanyak 174 bayi usia 0-6 bulan di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, tercatat belum mendapatkan ASI eksklusif hingga triwulan II 2026.
Data tersebut menjadi perhatian Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Kabupaten Purwakarta. Persagi menilai persoalan ASI eksklusif bukan hanya berkaitan dengan kemampuan ibu menyusui, tetapi juga masih adanya kebiasaan memberikan makanan atau minuman lain kepada bayi sebelum berusia enam bulan.
Ketua Persagi Kabupaten Purwakarta Evti Novia mengatakan, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, terdapat 3.304 bayi usia 0-6 bulan yang masuk dalam cakupan program ASI eksklusif.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.130 bayi tercatat mendapatkan ASI eksklusif. Sementara 174 bayi lainnya belum masuk dalam cakupan tersebut.
“Belum tentu 174 bayi itu tidak mendapatkan ASI sama sekali dari ibunya. Bisa saja mereka tetap mendapatkan ASI, tetapi ditambah makanan atau minuman lain sehingga masuk kategori gagal ASI eksklusif,” ujar Evti belum lama ini.
Menurut Evti, salah satu persoalan yang masih ditemukan di masyarakat adalah pemberian madu, makanan tertentu, hingga air putih kepada bayi yang belum berusia enam bulan.
“Air putih juga belum diperbolehkan untuk bayi di bawah enam bulan,” katanya.
Ia menjelaskan, ASI eksklusif berarti bayi hanya mendapatkan air susu ibu selama enam bulan pertama kehidupan tanpa tambahan makanan maupun minuman lain.
Selain faktor kebiasaan, kendala teknis saat menyusui juga masih ditemukan di lapangan.
Koordinator Bidang Gizi Bencana Persagi Purwakarta Pipi Nurmilah mengatakan, sejumlah ibu menyusui mengeluhkan rasa sakit akibat puting lecet.
Kondisi tersebut dapat membuat ibu enggan menyusui atau mengalami kesulitan mempertahankan pemberian ASI.
“Jadi tadi kita berikan cara posisi dan pelekatan cara menyusui yang benar. Sehingga nanti ASI-nya full, bayinya mendapatkan nutrisi sesuai kemudian ibunya juga tidak merasakan kesakitan pada saat menyusui,” ujar Pipi.
Persagi kemudian memberikan pendampingan secara langsung kepada ibu menyusui, termasuk memperagakan posisi dan pelekatan bayi yang tepat.
Edukasi juga diberikan sejak masa kehamilan. Dalam pelayanan terpadu di Puskesmas Kiarapedes, misalnya, anggota Persagi memberikan edukasi kepada ibu hamil yang menjalani pemeriksaan ultrasonografi (USG).
Pendampingan tersebut dilakukan agar calon ibu memiliki pengetahuan mengenai teknik menyusui sebelum melahirkan.
Persagi menilai tantangan pemberian ASI eksklusif tidak hanya muncul setelah bayi lahir. Pengetahuan keluarga dan kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun juga dapat memengaruhi pola pemberian makanan kepada bayi.
Evti mengatakan, masih ditemukan orang tua yang memberikan asupan selain ASI kepada bayi karena mengikuti kebiasaan keluarga atau informasi yang beredar di lingkungan sekitar.
Karena itu, edukasi tidak hanya menyasar ibu, tetapi juga pasangan dan keluarga yang mendampingi ibu selama masa menyusui.
Persagi Purwakarta terus melakukan sosialisasi melalui kegiatan di fasilitas pelayanan kesehatan dan pendampingan kepada masyarakat.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Putih Sari menyoroti kebutuhan gizi ibu menyusui. Ia mendorong agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga dapat menyasar ibu menyusui.
Menurutnya, makanan bergizi bagi ibu menyusui diharapkan membantu menjaga kondisi kesehatan ibu sekaligus mendukung produksi ASI.
“MBG ini perannya untuk diberikan kepada ibu menyusui, bukan kepada bayinya karena bayinya masih harus mendapatkan ASI eksklusif,” ujar Putih Sari saat kunjungan kerja ke Desa Darangdan, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta.
Dengan demikian, persoalan ASI eksklusif di Purwakarta tidak hanya berkaitan dengan cakupan program. Edukasi mengenai pemberian ASI, pendampingan teknik menyusui, dukungan keluarga serta pemenuhan gizi ibu menjadi bagian penting agar bayi dapat memperoleh ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupannya. (yat)



