
PURWAKARTA, RAKA – Pendidikan karakter di sekolah tidak hanya berkaitan dengan pembelajaran akademik. Di SMP Negeri 5 Purwakarta, nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama turut ditanamkan melalui penerapan Agama Keagamaan dan Pendalaman Kitab (AKPK).
AKPK merupakan salah satu bagian dari Lima Bunga Karakter Pendidikan Purwakarta, bersama 7 Poe Atikan, Sekolah Ramah Anak, Pendidikan Anti Korupsi, serta Tatanen di Bale Atikan.
Konsep tersebut turut mendorong sekolah memberikan ruang bagi peserta didik untuk menjalankan kegiatan keagamaan sesuai keyakinan masing-masing. Salah satu sekolah yang menerapkannya adalah SMPN 5 Purwakarta yang menyediakan sejumlah fasilitas ibadah bagi siswa dari berbagai latar belakang agama.
Kepala SMPN 5 Purwakarta, Neneng M. Fatimah, mengatakan sekolah berupaya memberikan fasilitas yang setara agar seluruh siswa dapat menjalankan kegiatan keagamaan dengan nyaman.
“Peserta didik kami berasal dari berbagai agama, karenanya, kami berupaya memberikan fasilitas agar mereka dapat melaksanakan kegiatan keagamaan dan pendalaman kitab sesuai keyakinannya masing-masing. Ini bagian dari penguatan karakter sekaligus pembelajaran toleransi,” ujar Neneng saat dikonfirmasi, Senin (28/9/2026).
Selain masjid, sekolah memiliki beberapa ruang yang disiapkan untuk kegiatan keagamaan siswa. Di antaranya Ruang Ekklesia bagi peserta didik Kristen Protestan, Ruang Santo Ignatius bagi peserta didik Kristen Katolik, serta Ruang Padmasari yang diperuntukkan bagi peserta didik beragama Hindu.
Namun, pada tahun ajaran 2026, fasilitas yang digunakan secara aktif menyesuaikan dengan jumlah peserta didik. Saat ini, kegiatan keagamaan siswa berlangsung di masjid, Ruang Ekklesia dan Ruang Santo Ignatius karena tidak terdapat peserta didik beragama Hindu.
Untuk mendukung pelaksanaan AKPK, SMPN 5 Purwakarta juga menghadirkan guru yang memberikan pembelajaran agama sesuai dengan keyakinan siswa. Pendidikan Agama Katolik antara lain diajarkan oleh Paulus Bambang Iriyanto, sementara Pendidikan Agama Protestan dibimbing oleh Yuni Sri.
Menurut Neneng, penerapan toleransi tidak hanya dilakukan melalui penyediaan ruang ibadah. Nilai tersebut juga dibangun melalui aktivitas sehari-hari siswa di lingkungan sekolah.
Para siswa dibiasakan untuk saling menghormati dan bekerja sama tanpa membedakan latar belakang agama. Sikap tersebut diterapkan dalam berbagai kegiatan, mulai dari menjaga kebersihan lingkungan, menata area sekolah, bercocok tanam hingga kegiatan gotong royong.
“Alhamdulillah, toleransi antarumat beragama di SMP Negeri 5 Purwakarta berjalan dengan baik. Anak-anak dapat bekerja sama dalam pembelajaran maupun berbagai kegiatan sekolah,” katanya.
Neneng menilai keberagaman yang ada di lingkungan sekolah dapat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter siswa. Melalui interaksi sehari-hari, siswa tidak hanya belajar mengenai perbedaan, tetapi juga membangun kebiasaan untuk menghargai dan bekerja sama dengan orang lain.
Ia menegaskan, SMPN 5 Purwakarta akan terus memperkuat pendidikan karakter melalui lingkungan sekolah yang aman, nyaman dan inklusif.
“Dengan demikian, peserta didik tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga karakter yang kuat serta mampu hidup berdampingan dalam semangat toleransi dan gotong royong,” pungkas Neneng. (yat)



