
Radarkarawang.id– Sudah berjalan lama di Kabupaten Karawang, alumni KNPI Karawang Prihatin Temukan Susu MBG Berbau dan Menggumpal di Kecamatan Pedes.
Korps Alumni Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Karawang prihatin terhadap berbagai persoalan terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di mana yang terbaru susu menu MBG di SDN Karangjaya II, Desa Karangjaya, Kecamatan Pedes terlihat sudah menggumpal dan berbau.
Sekretaris Korps Alumni KNPI Karawang, Lukman N. Iraz mengatakan, dulu sempat muncul kasus menu ikan yang basi bahkan adanya ulat.
Terbaru, beredar pula informasi mengenai susu kemasan basi untuk siswa di SDN Karangjaya II, yang berada di wilayah Kecamatan Pedes.
“Hal ini tentu menjadi keprihatinan bagi kami. Program MBG pada dasarnya merupakan program yang sangat baik dari pemerintah pusat, yaitu dari Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dengan tujuan agar anak-anak Indonesia mendapatkan asupan makanan bergizi,”katanya, Minggu (8/4).
Selain kualitas makanan, Lukman juga mempertanyakan harga makanan menu MBG yang ia lihat tidak mencapai Rp10 ribu per porsi makanan.
Lukman melihat, ada dugaan upaya rasionalisasi harga oleh pengelola dapur MBG dengan cara memberi label harga pada setiap item makanan.
Baca Juga: Serasa di Mekah, Intip Keunikan Musala Dewi Yulisyani Karawang yang Mirip Ka’bah
Ia mencotohkan, jeruk Rp2.500 hingga roti 1.500, sehingga terlihat seolah-olah total menu tersebut sesuai dengan nilai anggaran yang pemerintah tentukan.
“Ini terkesan seperti akal-akalan. Biasanya kalau kita membeli makanan lalu ingin memberikannya kepada orang lain, label harganya justru dicabut. Tapi ini malah dipasang seakan-akan untuk menunjukkan bahwa menu tersebut sesuai dengan nilai anggaran,” katanya.
Lukman menegaskan, pihaknya meminta kepada pihak berwenang, khususnya Satuan Tugas MBG dan Badan Gizi Nasional (BGN), agar melakukan pengawasan ketat.
BGN juga harus menindak tegas pengelola yang terbukti melakukan pelanggaran dalam pelaksanaan program tersebut agar kualitas layanan dan makanan MBG maksimal.
Selain itu, Lukman juga menyoroti dugaan adanya praktik monopoli dalam pengelolaan titik dapur MBG di Kabupaten Karawang oleh pihak tertentu.
Lukman menyebut, berdasarkan informasi yang ia terima terdapat biaya yang mencapai miliaran rupiah untuk mendirikan satu titik dapur MBG ini.
Padahal menurut informasi yang ia peroleh, setelah berkonsultasi pihak terkait, idealnya pendirian dapur MBG tidak memerlukan biaya sebesar itu.
“Kenapa di Karawang membuat satu dapur MBG bisa mencapai miliaran dan sumber anggarannya dari mana. Kami berharap ada transparansi,” katanya.
Sementara itu, Kepala Satgas MBG Karawang Ridwan Salam, saat dikonfirmasi pihaknya tengah melakukan investigasi terkait dugaan adanya susu yang basi yang terjadi di SDN Karangjaya ll, Kecamatan Pedes. (zal)



