
KARAWANG, RAKA – Kasus stunting di Kabupaten Karawang masih menjadi perhatian serius, dengan target penurunan angka stunting menjadi 10-14% pada tahun 2025.
Pemerintah daerah dan berbagai pihak termasuk desa, camat, dan dinas terkait terus berupaya mengatasi stunting melalui berbagai program seperti pos gizi, pemberian makanan bergizi, penyuluhan, dan pendampingan ibu hamil serta anak.
Kasus stunting di Desa Kertasari, Kecamatan Rengasdengklok per bulan Agustus ini sebanyak 8 orang. Pemerintah desa melalui ibu-ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) terus berupaya dalam mengentaskan kasus stunting yang masih tersisa.
Ketua PKK Desa Kertasari Dewi mengaku keseriusan kader posyandu Kertasari dalam menekan angka stunting ini dapat dibuktikan melalui pemeriksaan kesehatan untuk balita, anak, dan ibu hamil secara rutin. Kemudian memberikan makan bergizi atau pemberian makanan tambahan (PMT) untuk anak stunting maupun ibu hamil.
”Khusus untuk anak stunting kita memberikan makan rutin setiap hari Sabtu,” ujarnya.
Berdasarkan catatan yang diterima Radar Karawang, jumlah balita di Desa Kertasari sebanyak 423 laki-laki dan 342 perempuan.Totalnya 765 balita. Dewi mengaku jumlah tersebut belum ditambah dengan ibu hamil.
”Di Desa Kertasari ini paling banyak jumlah balitanya dibanding desa lainnya di Rengasdengklok,” kata Dewi.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Karawang terus menekan angka stunting. Kepala Bidang Pembangunan dan Pemberdayaan Keluarga DPPKB Karawang, Edi Zulkarnaen, menuturkan bahwa sejak awal, Karawang menghadapi tantangan cukup berat dalam penanganan status gizi balita.
Berdasarkan data SSGI, SKI, dan EPPGBM, angka stunting di Karawang tahun 2021 tercatat 20,60 persen, kemudian turun menjadi 14,00 persen di tahun 2022, dan naik sedikit di 2023 menjadi 17,10 persen.
Pada 2023, sejumlah indikator menunjukkan hasil yang belum maksimal. Hanya 37,70 persen ibu hamil KEK mendapat tambahan asupan gizi, dan 50,12 persen bayi mendapat ASI eksklusif, jauh di bawah target nasional.
Kemudian meningkat pada pada tahun 2024 bahwa 63.38 persen ibu hamil KEK mendapat tambahan asupan gizi, namun masih dibawah target nasional sebesar 90 persen. Sementara target bayi mendapat ASI eksklusif tercapai d tahun 2024 sebesar 80.80 persen.
Data SSGI 2024 menunjukkan angka stunting di Karawang kembali meningkat menjadi 17,60, jauh di atas target nasional 14. Sementara Underweight 14,70 dan Wasting 8,0. Hasil serupa juga ditunjukkan EPPGBM, dengan prevalensi underweight 3,5 persen, stuntung 1,80 dan wasting 1,8 persen.
Untuk itu, Edi mengakui masih ada kendala. Di antaranya rendahnya cakupan ibu hamil KEK yang mendapat tambahan gizi, keterbatasan kesadaran masyarakat, hingga masih adanya tantangan pada sanitasi dan akses air bersih di beberapa wilayah. (mra)



