Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain litespeed-cache dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/rada4514/public_html/wp-includes/functions.php on line 6121

Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain litespeed-cache dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/rada4514/public_html/wp-includes/functions.php on line 6121
Badai, Mesin Perahu Mati Sudah Biasa - Radar Karawang
Uncategorized

Badai, Mesin Perahu Mati Sudah Biasa

SIAP MELAUT: Sutardi (34) nelayan Sungaibuntu, Kecamatan Pedes, bersiap melaut untuk mencari ikan..

PEDES, RAKA – Mayoritas warga Sungaibuntu, Kecamatan Pedes, berprofesi sebagai nelayan. Maklum, sejak kecil mereka sudah dibawa orang tuanya melaut karena jarang dari mereka bersekolah hingga bangku kuliah.

Risban (53) nelayan mengatakan, kesehariannya mencari ikan untuk menafkahi istri dan kelima anaknya. Meski penuh bahaya semisal badai, itu tidak jadi soal. Dia mengaku sejak umur 12 tahun sudah mulai diajak mencari ikan oleh orang tuanya. “Saya dari kecil sudah dibawa nyari ikan, soalnya dulu orang sini jarang yang sekolah. Makanya kegiatannya nyari ikan,” jelasnya kepada Radar Karawang.

Ia melanjutkan, kebiasaan warga Sungaibuntu, jika mencari ikan maupun udang tidak sampai satu hari atau berhari-hari. Melainkan berangkat subuh pulang pukul dua siang. Ada juga yang berangkat malam pulang pagi. “Kita bawa peralatan masak, soalnya kalau bawa langsung jadi di rumah kurang nikmat, soalnya keburu dingin. Dan kalau makan pasti pakai ikan, kalau tanpa ikan itu kurang enak,” katanya.

Risban mengatakan, hal yang pernah dialaminya selain berjuang menghindari badai, juga sering mesin perahunya mati. Jika sudah begitu, tinggal pasang layar. “Kalau ada nelayan lain pasti dibantu, tapi kalau tidak ada, kita pasang layar dan kalau menggunakan layar sampai daratnya kurang lebih sekitar lima jam,” katanya.

Ade (29) nelayan lainnya mengatakan, pertama kali ikut mencari ikan berusia 17 tahun. “Awal mencari ikan di laut, pusing sampai mabok,” katanya.

Ade mengaku hasil tangkapan sehari biasanya dapat 50 kilogram, berbeda dengan tahun lalu. “Sekarang mah susah nyari ikan, tidak kayak dulu masih banyak,” pungkasnya (mra)

Related Articles

Back to top button