Purwakarta
Trending

Bambang Reka Mulyana Penggemar Filateli

PURWAKARTA, RAKA – Ketika komunikasi digital kian mendominasi kehidupan sehari-hari, sebagian orang justru memilih bertahan pada medium klasik yang sarat makna. Salah satunya Bambang Reka Mulyana (54), filatelis asal Kabupaten Purwakarta yang hingga kini setia merawat sejarah dan pengetahuan melalui koleksi perangko.

‎Bagi Bambang, perangko bukan sekadar alat pembayaran jasa pos, melainkan arsip mini yang menyimpan kisah perjalanan bangsa, budaya, hingga persahabatan lintas negara. Ketertarikannya pada filateli telah tumbuh sejak ia duduk di bangku SMP pada 1986, saat surat-menyurat masih menjadi sarana utama komunikasi jarak jauh.

‎Ia mengisahkan, kegemarannya bermula dari kebiasaan mengirim surat ke sejumlah kedutaan besar negara asing yang berada di Jakarta. Kedutaan Besar Jerman menjadi korespondensi pertamanya. Tak lama berselang, balasan berupa majalah tentang Jerman pun diterima, lengkap dengan perangko yang memicu rasa penasarannya.

‎“Dari situ saya mulai kirim surat ke kedutaan lain seperti Jepang dan Belanda. Isinya minta informasi negara mereka, termasuk perangko bekas. Alhamdulillah selalu dibalas,” ujar Bambang, Rabu (21/1).

‎Sejak saat itu, koleksi majalah dan perangko dari berbagai negara mulai memenuhi ruang pribadinya. Ia menilai, pengalaman tersebut bukan hanya menambah koleksi, tetapi juga membuka wawasan tentang dunia luar yang saat itu sulit diakses oleh pelajar daerah.

‎Keseriusannya dalam dunia filateli semakin terlihat ketika menempuh pendidikan di SMK. Bambang menyadari belum adanya komunitas filatelis di Purwakarta. Berbekal pengalaman belajar ke Perkumpulan Filateli Remaja Bandung (PFRB), ia kemudian menggagas berdirinya Klub Filateli Purwakarta pada 1988.

‎Ia menyebutkan, pada awal pembentukan, klub tersebut mampu menghimpun sekitar 20 hingga 30 orang anggota. Menurutnya, hal itu menjadi bukti bahwa minat terhadap filateli sebenarnya cukup besar, hanya belum terwadahi dengan baik.

‎“Saya jadi ketua klub sejak awal dan terus menggerakkan kegiatan filateli di Purwakarta. Banyak yang sebenarnya suka perangko, tapi belum punya komunitas,” katanya.

‎Lebih jauh, Bambang menjelaskan bahwa filateli tidak hanya berkutat pada perangko. Ada berbagai objek koleksi lain yang berkaitan dengan dunia pos, seperti sampul hari pertama (SHP) dan maksimum card.

‎“SHP itu sampul yang terbit bersamaan dengan perangko baru, biasanya temanya sama. Kalau maksimum card, kartu pos yang disertai perangko dengan gambar dan tema yang selaras,” tuturnya.

‎Ia juga memaparkan jenis perangko berdasarkan fungsinya, yakni perangko definitif dan non-definitif. Perangko definitif dicetak secara berkelanjutan, sementara perangko non-definitif diterbitkan terbatas untuk peristiwa tertentu.

‎“Perangko non-definitif biasanya untuk event seperti PON atau MTQ. Jumlahnya terbatas, jadi nilai koleksinya juga lebih tinggi,” ucap Bambang.

‎Menurut Bambang, salah satu daya tarik utama filateli terletak pada nilai edukasinya. Setiap perangko memuat informasi sejarah, budaya, flora fauna, hingga peristiwa penting suatu daerah atau negara.

‎“Kalau kita koleksi flora fauna, misalnya, di situ ada cerita tentang habitat, jenis, bahkan kondisi lingkungannya. Sejarah itu sebenarnya ada di perangko,” jelasnya.

‎Ia pun mengenang masa ketika perangko berfungsi layaknya media sosial saat ini. Melalui sahabat pena dari berbagai daerah dan negara, Bambang mengaku banyak belajar tentang budaya, bahasa, serta kehidupan masyarakat di tempat lain.

‎“Koresponden itu bikin kita dapat banyak pengetahuan, karena saling tukar informasi,” katanya.

‎Tak hanya soal wawasan, filateli juga melatih kesabaran dan ketelitian. Bambang menjelaskan proses pelepasan perangko dari amplop harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak fisik perangko.

‎“Digunting dulu, direndam air, lalu diambil pakai pinset dan dibalik supaya tidak lengket lagi. Harus telaten, karena kalau rusak, nilainya bisa turun,” ujarnya.

‎Dedikasinya mengantarkan Bambang mengikuti berbagai pameran dan kompetisi filateli, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ia pernah meraih medali di sejumlah kota seperti Palembang, Bandar Lampung, Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta. Bahkan, koleksinya sempat dipamerkan hingga ke Singapura.

‎Selain itu, Bambang juga aktif dalam kepengurusan organisasi filateli. Dalam waktu dekat, ia dijadwalkan dilantik sebagai pengurus daerah tingkat provinsi. Ia menilai, keberadaan Pameran Filateli Nasional (Panfila) yang rutin digelar setiap tahun menjadi bukti bahwa dunia filateli masih hidup dan berkembang.

‎Meski penggunaan surat fisik kian menurun, Bambang menegaskan perangko tetap memiliki nilai, bahkan menjadi instrumen investasi. Perangko langka dan berusia tua dapat bernilai jutaan rupiah.

‎Ia mengungkapkan, salah satu koleksi bersejarah yang dimilikinya adalah perangko “Bumi Jatiluhur” terbitan 1969, yang menampilkan gambar satelit dan menjadi ikon Purwakarta. Selain itu, ia pernah memiliki sampul perangko batu akik dengan batu asli yang sempat ditawar hingga jutaan rupiah.

‎“Ada juga perangko OWF bergambar orangutan. Itu salah satu yang paling langka dan dicari, satu seri harganya bisa puluhan juta,” katanya.

‎Melihat minimnya regenerasi filatelis di era digital, Bambang berharap generasi muda mulai melirik filateli sebagai aktivitas positif. Ia menilai, hobi ini tidak hanya menambah pengetahuan dan melatih disiplin, tetapi juga berpotensi menjadi investasi jangka panjang.

‎“Daripada ke kegiatan yang tidak bermanfaat, filateli ini jelas positif. Bisa jadi ilmu, pengalaman, bahkan tabungan masa depan,” pungkasnya. (yat)

Related Articles

Back to top button