
KARAWANG, RAKA – Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (DPKP) Kabupaten Karawang mencatat sebanyak 180,8 hektare lahan pertanian terdampak banjir pada Januari 2026 telah diajukan klaim Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Klaim tersebut mencakup lahan yang mengalami gagal panen maupun gagal tanam akibat terendam banjir.
Katim Bidang Prasarana Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Karawang Aang mengatakan, bahwa pengajuan klaim baru dapat dilakukan pada Februari 2026 setelah kondisi air surut dan tingkat kerusakan lahan bisa dipastikan.
Baca Juga : Cara Urus KTP dan KK di Karawang Selama Puasa: Cek Jam Operasional MPP dan Gerai KTP-el
“Jadi ini data klaim yang terdampak banjir Januari. Baru bisa mengajukan di Februari ini karena sudah surut dan terlihat tingkat kerusakannya,” katanya, kepada Radar Karawang, Kamis (19/2).
Diteruskannya juga, adapun rincian luas lahan yang diajukan klaim AUTP tersebar di sejumlah kecamatan, yakni Kecamatan Cilebar seluas 2,2 hektare, Kecamatan Pakisjaya 40 hektare, Kecamatan Batujaya 22 hektare, Kecamatan Telukjambe Barat 31,24 hektare, Kecamatan Telukjambe Timur 36,52 hektare, Kecamatan Tirtajaya 30,7 hektare, Kecamatan Cilamaya Wetan 6,70 hektare, serta Kecamatan Tempuran 3,5 hektare. Total keseluruhan mencapai 180,8 hektare.
Selain itu, menurutnya, DPKP Karawang juga masih menunggu proses surutnya banjir di tiga desa di Kecamatan Cibuaya untuk pengajuan klaim tambahan. Saat ini, lokasi tersebut masih tergenang sehingga belum dapat dilakukan pendataan secara menyeluruh.
EPAPER RADAR KARAWANG – UPDATE SETIAP HARI
“Masih ada rencana pengajuan klaim di tiga desa Kecamatan Cibuaya karena lokasinya belum surut. Mudah-mudahan tidak lama lagi airnya surut sehingga bisa segera diajukan,”paparnya.
Untuk besaran pertanggungan, sambungnya, asuransi AUTP memberikan ganti rugi sebesar Rp 6 juta per hektare bagi petani yang lahannya mengalami gagal panen atau gagal tanam sesuai ketentuan yang berlaku.
”Program ini diharapkan dapat membantu meringankan beban petani serta menjaga keberlangsungan produksi pertanian di tengah kondisi cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Karawang,” tutupnya. (zal)



