Budaya Keramik Plered Dimulai Sejak 1904
GEDUNG BERSEJARAH: Gedung tua tempat produksi keramik di Jalan Raya Plered.
PURWAKARTA, RAKA – Kabupaten Purwakarta memilik produk kriya sentra keramik yang sudah mendunia. Tepatnya di Desa Anjun Kecamatan Plered. Hampir kebanyakan masyarakat di sana menggeluti kerajinan tangan berbahan dasar tanah liat sebagai mata pencaharian. Di sepanjang Jalan Raya Anjun mulai Pertigaan Cianting hingga eks Pasar Plered berjejer pertokoan menjajakan keramik dengan berbagai desain unik dan menarik. Bahkan di sekitar itu juga banyak tempat produksi atau pabrik pembuatan keramik oleh warga setempat.
Kualitas keramik ini telah diakui oleh berbagai negara di dunia. Ribuan eskpor ke berbagai negara di Benua Asia, Amerika dan Eropa membuktikan jika kualitas keramik Plered tak bisa dipandang sebelah mata. Namun jauh sebelum itu, tidak banyak yang tahu pertama kali industri keramik Plered mulai berkembang hingga sesukses ini.
Staf UPTD Litbang Kramik Plered Jujun Junaedi menceritakan, pertama masuk keramik di Plered pada tahun 1904. Pada waktu itu warga membuat segumpal tanah agar dapat difungsikan. Bukti dari sejarah itu, dengan berdirinya gedung tua menyerupai pabrik berlokasi di Jalan Raya Plered, tak jauh dari jembatan rel kereta api. Setelah adanya gedung tua itu warga mulai tertarik membuat gerabah kramik. “Dulu saat pertama masuk, bahan keramiknya itu tanah putih. Namun setelah dilakukan penelitian dan lainnya ternyata tanah liat di Plered juga bisa digunakan. Di situlah tanah liat berwarna cokelat asal Plered menjadi bahan baku,” ujar Jujun, Kamis (2/9).
Dikatakannya, bangunan itu didirikan dan diresmikan oleh Wakil Presiden RI pertama, Mochammad Hatta, sebagai sanggar belajar bagi perajin keramik sekitar tahun 1950. Meski keberadaannya tidak sebagus tempo dulu, namun bangunan itu sehari-harinya tetap digunakan dan difungsikan sebagai tempat produksi grabah keramik. “Bangunan itu diresmikan oleh Pak Hatta wakil presiden RI pertama, sekitar tahun 1950. Sebagai tempat sanggar para pengrajin pemula warga sekitar,” jelas Jujun.
Tampak depan bangunan bagian atas membentuk dinding tinggi bertuliskan “Induk Perusahaan Keramik Plered”.
Sementara, pada bagian belakangan bangunan, dua cerobong asap menjulang setinggi kurang lebih 5 meter. Di bawahnya, ada enam tungku perapian tempat pembakaran gerabah dibangun oleh orang asing. Bangunan itu hingga saat ini masih digunakan sebagai tempat produksi kerajinan tangan keramik Plered. Para perajin masih tetap mempertahankan membuat keramik secara manual. “Gedung tua itu merupakan gedung paling bersejarah atas perkembangan kramik di Plered. Bangunan ini masih asli, tidak berubah. Pengelolaan gedung itu di bawah Provinsi Jawa Barat,” imbuhnya.
Bahkan, lanjut dia, dulu sempat mendapat bantuan mesin buatan Jerman penghalus tanah liat. Setelah itu, produksi gerabah meningkat hingga bisa menyuplai ornamen kegiatan intenasional di Jakarta. Salah satunya, membuat gentong dan jolang besar berukuran tinggi 170 cm dan diameter 150 cm untuk dikirim ke Jakarta, pada momen Game of The New Emerging Force (Ganefo) yang digagas Presiden RI Ir Soekarno pada 1963. “Geliat keramik di sini semakin dikenal hingga ke mancanegara. Keramik ini sebagian besar mata pencarian warga Desa Anjun. Ini warisan nenek moyang yang harus kita jaga keasliannya,” pungkasnya. (gan)