Baru Tanam Benih Sudah Terendam

LEMAHABANG WADAS, RAKA- Hujan yang mengguyur tiga hari terakhir, membuat luapan sungai dan irigasi meluber ke areal pesawahan. Ada sekitar 135 hektare sawah di Kecamatan Tempuran dan Kecamatan Lemahabang terendam banjir.

Di Dusun Gebang Carang – Babawangan, Desa Lemahmukti Kecamatan Lemahabang misalnya, sedikitnya 60 hektare sawah digenangi air selama dua hari terakhir. Meskipun baru selesai pengolahan, sebagian lahan sudah masa persemaian yang terancam mati jika lama digenangi air. Kades Lemahmukti H Damung mengatakan, lahan sawah memang tergenang air hujan yang rata-rata kiriman dari irigasi hulu. Tapi di Lemahmukti masih beruntung, karena lahan puluhan hektare yang terairi tersebut baru pengolahan dan belum memasuki masa tandur.

Diteruskannya, hanya ada sebagian saja sawah yang mulai persemaian benih, itu masih dalam batas toleransi karena air yang menggenang di sepanjang sawah Dusun Gebang Carang – Babawangan tersebut, biasanya banjir pagi hari, tapi mulai berangsur surut saat sore harinya. Sehingga pertanaman masih aman dari ancaman membusuk. “Iya banjir sawah akibat kiriman dari hulu, tapi masih aman sih, karena sore hari juga air mah sudah berangsur surut,” katanya.

Para petani, sebut Damung, diimbau untuk tetap menahan diri agar tidak buru-buru tanam saat musim hujan yang deras setiap hari seperti ini. Kalau ada tanda-tanda mulai sedikit mereda, tanah yang sudah diolah traktor tersebut bisa segera tanam dan mulai persemaian. Sehingga ancaman tanaman membusuk bisa dikurangi, apalagi saat musim banjir seperti ini, ancaman hama tikus juga semakin banyak. “Jadi petani lebih baik menunda dulu persemaian, sampai dipastikan cuaca lebih kondusif,” ujarnya.

Kepala UPTD Pertanian Kecamatan Lemahabang H Dedi S mengatakan, pihaknya belum mendata luas lahan sawah di Lemahmukti dan Lemahabang yang terkena banjir. “Kita belum chek dan mendata luas yang kena banjir,” ujarnya.

Tak hanya di Kecamatan Lemahabang, 75 hektare lahan sawah di Kecamatan Tempuran juga mulai banjir. Terparah, terjadi di Dusun Pulomas RT 05/03 dan Wagirlumbung Desa Jayanegara, dan juga Purwajaya. Banjir akibat luapan irigasi bendungan Saem, juga mulai menutup akses jalan setapak di lokasi tersebut. Kaur Trantib Desa Jayanegara, Nunu mengatakan, areal pesawahan memang belum tandur karena masih sebar alias persemaian benih. Namun, guyuran hujan dengan intensitas tinggi membuat kali dan irigasi di sekitar Puloluntas dan Wagirlumbung meluber hingga menggenangi sekitar 60 hektare sawah. Beruntung, air belum masuk ke rumah-rumah warga, namun persemaian terancam membusuk jika genangan air lebih dari 4 hari belum juga surut. “Iya belum masuk air ke Penduduk, tapi ke sawah yang sedang persemaian,” katanya.

H Yadi Kepala UPTD Pertanian Kecamatan Tempuran mengatakan, dua desa yang lahan sawahnya mulai digenangi air yaitu Desa Jayanegara dan Desa Purwajaya yang ditotalkan mencapai 75 hektare. Tapi klaimnya, sejauh ini belum ada tanaman dan belum ada persemaian, sehingga air banjir luapan tersebut, hanya menggenangi sawah yang sebagian sudah pengolahan tanah saja, sementara, petani biasanya menunggu bulan Februari untuk persemaian, karena diketahui Desember – Januari itu adalah musim penghujan dengan intensitas tinggi. “Tergenang air seluas 75 hektare saja, tapi belum ada tanaman, karena biasanya petani baru tanam sekitar Februari,” pungkasnya. (rud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here