Berburu Harta Karun

CILAMAYA WETAN,RAKA– Laut Cilamaya semakin menjadi bidikan nasional, bahkan dunia. Pasalnya, selama puluhan tahun Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) hingga benda peninggalan era VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), tak jarang ditemukan para nelayan di pesisir pantai Pasirputih dan Tangkolak. Namun, seiring spot pantai Tangkolak Desa Sukakerta Kecamatan Cilamaya Wetan dijadikan prioritas wisata bahari terintegrasi bidikan Kementrian Kelautan Perikanan (KKP) dan Kemenko Kemaritiman, sisa-sisa BMKT di sejumlah karang dilaut Cilamaya mulai jadi incaran sejumlah pihak.

Kepala Desa (Kades) Sukakerta H Buchori mengatakan, penemuan benda-benda seperti serpihan keramik, manik-manik, koin dan cerek yang diduga peninggalan Belanda, sebenarnya sudah sering ditemui para nelayan Tangkolak sejak tahun 1995. Bahkan, peninggalan sejarah harta karun tersebut, juga tak jarang menjadi buruan orang luar Tangkolak dan termasuk warganya sendiri. Salah satu lokasi yang menjadi tujuan adalah Karang Sendulang atau yang jaraknya 2,5 mil dari bibir pantai, juga sudah tak asing bagi nelayan, bahkan sering disebut Karang Kapalan, karena dilokasi itu ada kapal-kapal tenggelam.

Bahkan, titik koordinat di mana benda dan serpihan peninggalan kapal itu juga ia tahu, namun belum berani mengungkapkannya, sebab, selama ini banyak dongeng tapi urung juga mendapat respon serius dari pemerintah. Akibatnya, banyak pencurian ilegal di dalam laut kaitan benda – benda muatan kapal tenggelam tersebut. “Sekarang saya berani ungkap, karena sudah 17 orang warga kami dari tahun ke tahun meninggal akibat dugaan berburu BMKT ini,” katanya disela-sela kunjungan perwakilan Muspida Karawang di Tangkolak, Rabu (26/9).

Sementara itu, Polisi Khusus (Polsus) Dinas Perikanan dan Kelautan Wawan Setiawan mengaku, sudah banyak BMKT hilang di laut Tangkolak, Tanjungbaru dan Pasirputih. Bahkan yang sekarang mulai di bidik Pemerintah itu adalah sisanya. Sepengetahuannya, koordinat yang banyak menyimpan BMKT itu adalah di Karangbui, perbatasan Subang- Karawang, Karangsendulang dan Pulogede Tanjungbaru. Disinggung rinciannya, Wawan menyebut, di Karangbui yang mulai mendekat ke wilayah Patimban Subang, ada 6 meriam, 1 jangkar dan serpihan koin-koin peninggalan VOC. Alasan mengapa harus dicek dan diangkat oleh Karawang, karena yang paling banyak menemukan adalah nelayan Tangkolak, dimana sebagiannya mungkin ada yang dihimpun oleh beberapa nelayan, apalagi sebut Wawan, penyelam diving dengan kedalaman 30 – 50 meter rata-rata berasal dari Tangkolak. “Ada tiga koordinat yang banyak peninggalan muatan kapal tenggelam, yaitu Pulogede, Karangsendulang dan Karangbui,” ungkapnya.

Selain itu, sambung Wawan, ada pula di Karangsendulang atau yang warga Cilamaya menyebutnya dengan nama Karangkapalan, koordinat S 06-07-941 dan E107-35-075, atau 2,5 mil dari bibir pantai Tengkolak terdapat dua unit kapal tenggelam yang diduga membentur karang di kedalaman 10 meter, kapal VOC dan kapal Sentosa yang masih terdapat kamar mesin walau tidak utuh, bisa dilihat di kedalaman tersebut. Dan kemungkinan masih banyak lagi, tapi ia ingatkan, bahwa hal itu hanya sisa, karena sebelumnya, penemuan-penemuan dari laut Cilamaya sudah berhasil di curi secara ilegal, bahkan dulu sempat tidak ada aturan, di mana swasta boleh mengambil sejumlah benda bersejarah di dasar laut ini. “Karangsendulang itu ada dua kapal tenggelam di kedalam 10 meter saja terlihat, masih ada kamar mesin walau tidak utuh,” pungkasnya. (rud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here