Petani Keluhkan Pola Tanam Serentak

PANEN: Petani menimbang gabah hasil panen. Saat ini, harga gabah dinilai rendah karena petani panen secara serentak. Kondisi ini membuat petani tidak memiliki keuntungan besar.

Harga Murah, Cepet Turun

TELAGASARI, RAKA- Masa tanam hingga panen serentak memang menjadi salahsatu upaya Pemerintah Kabupaten Karawang untuk mempertahankan status lumbung padi Jawa Barat. Namun apa yang dirasakan petani sangat berbeda dengan kenyataannya. Pasalnya, petani hanya butuh harga jual padi yang mahal dan menguntungkan ketimbang status itu.
“Kalau tanam serentak gini kan larinya ke harga jadi murah, soalnya semua petani di Karawang pada panen. Selain itu harga jual padi kita cepat turunnya, sehari bisa sampai Rp500 rupiah perkilogram,” ujar salah satu petani Amat, Minggu (2/5).

Saat ia panen, masih di kisaran Rp4.200 – 4.500 per kilogram, namun sehari sampai dua hari setelah ia panen, tak sedikit petani yang mengeluh karena harga jual padinya turun hingga mencapai Rp3.800 per kilogram. Menurutnya hal itu memang wajar, setiap panen pun akan mengalami penurunan harga. Namun, jika ketika panen tidak serentak, jatuhnya harga jual padi tak sampai merosot tajam. Sehari Rp100 – 200 itu hal wajar. “Mungkin itungannya kecil, karena perkilogram. Coba dikali per tonase?” ujarnya.

Selain itu, hampir beberapa tahun tidak ada musim katiga atau sawah dikeringkan dan diselang palawija. Sekarang sawah itu akan tetap basah dan jelas mempengaruhi kadar tanah, yang akhirnya akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman padi. Bisa saja diakali dengan obat dan berbagai jenis pupuk, namun akan berbeda dan yang jelas akan memakan biaya tambahan. Sementara modal di genjot, harga jual murah dan berakibat pada keuntungan dan pengeluaran petani yang tidak seimbang. Artinya lebih besar pasak daripada tiang.

Belum lagi perihal air, karena semua petani tanam, otomatis semua petani diberbagai penjuru Karawang, kecuali di pegunungan akan membutuhkan suplai air yang cukup. Sementara stok air terbatas. “Pantas masih banyak petani yang sampai ribut akibat berebut air,” katanya.

Di samping itu, siklus hama akan tetap ada dan tidak akan pernah putus. Karena sistem migrasi mereka yang pernah berhenti berpindah dari sawah satu ke sawah lain. “Banyak madhorotnya kalau memang mau dibongkar mah, khusus bagi petani,” singkatnya. (rok)

Recommended For You

About the Author: Mang Raka