11 Tahun Muhammad Febriyana Hanya Terbaring

BUTUH BANTUAN: Bocah berusia 12 tahun hanya bisa terbaring.

PEDES, RAKA – Orang tua mana yang ingin buah hatinya menderita penyakit berkepanjangan, bahkan untuk kesembuhan anak orang tua rela habis-habisan untuk biaya berobat. Namun, keadaan ekonomi menjadi alasan bagi orang tua terpaksa harus meratapi nasib sang anak.

Pasangan suami istri, Suryana (34) dan Sutinah warga Dusun Babakan Kedaung RT 03/02, Desa Jatimulya, Kecamatan Pedes itu ingin anaknya Muhamad Febriyana (12) sembuh dari penyakitnya. Febri sudah sebelas tahun tak bisa jalan dan hanya berbaring di rumah, bahkan sekarang dia juga divonis tak bisa melihat oleh dokter. Ayah Febri, Suryana menceritakan, anak pertamanya itu lahir dengan keadaan normal, tapi saat usia satu tahun anaknya mengidap penyakit demam atau sering dikenal dengan penyakit step. “Waktu usia satu tahun normal biasa, malah udah mau jalan, terus dia sakit langsung konsul ke bidan, kata bidan disuruh ke puskesmas, terus diperiksa di puskesmas dikasih obat (tapi) sehari semalam itu masih panas juga,” jelasnya, kepada Radar Karawang saat ditemui di rumahnya, Rabu (18/11).

Tak sampai disitu, Suryana juga langsung membawa buah hatinya ke rumah sakit umum dan dirawat selama satu bulan, ditambah rawat jalan selama enam bulan. Namun, kondisi anaknya itu tak juga ada perubahan. Untuk menghilangkan rasa penasaran dan berharap anaknya sembuh, Suryana juga membawa anaknya untuk diterapi rutin sekitar tiga tahun. “Sekarang sudah lelah, akhirnya pasrah,” imbuhnya.

Biaya berobat selama di rumah sakit, Suryana menyebut menggunakan Jamkesda sehingga bisa gratis. Tapi, untuk biaya rawat jalan atau kontrol itu menggunakan biaya sendiri, termasuk terapi saat itu pakai uang sendiri. Suryana pekerja harian buruh lepas dengan penghasilan tak menentu mengaku masih memiliki harapan agar anaknya bisa sembuh. “Kalau punya duit pengennya dibawa berobat, boro-boro buat ngurusin berobat, ngurusin ini aja gimana,” ujarnya.

Suryana menambhakn pihaknya juga tidak mendapat bantuan seperti BPNT ataupun PKH, hanya saja sekali mendapat bantuan paket sembako, itupun dari bantuan Covid-19. Edi, anggota PSM Desa Jatimulya mengaku sempat rekan kerjanya mendampingi pengobatan anaknya Suryana dan itu sudah lama bahkan sebelum pemerintah desa ini menjabat.

Lili Romli LPM Desa Jatimulya meminta, bagi masyarakat tidak mampu dan tidak mendapat bantuan untuk memberanikan diri datang ke kantor desa untuk kemudian nantinya bisa ditindaklanjuti supaya tercover untuk mendapat bantuan, ditambah lagi dirinya menerima aduan melalui nomor telepon yang sudah disebarkan. Lebih dari itu pihaknya juga meminta agar masyarakat melaporkan jika ada anggota PSM yang tidak melayani dengan baik. “Kalau ada petugas kami, baik dari LPM maupun PSM yang dengan tanda kutip selalu kepada pelayanan meminta materi, datang saja ke saya,” ujarnya. (mra)

Recommended For You

About the Author: Mang Raka

2 Comments

  1. Very well done and written my friend!
    I’ve jjust started writing a blog myself in the last few days and observed that lot of writers simply rework old
    content but add very little of benefit. It’s great to seee
    a benedficial write-up of some actual valje to me, as a reader.

    It is on my list of creteria I need to replicate being a new
    blogger. Visitor engagement and content quality are
    king.
    Many awesome suggestions; you’ve absolutely mansged
    too get on my list oof writers to watch!

    Carry on the great work!
    Cheers,
    Sharia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *