BUMDes Tambaksari Produksi Bandeng Gepuk

TERIMA KUNJUNGAN : BUMDes Sejahtera Bahari, Desa Tambaksari, Kecamatan Tirtajaya menerima kunjungan dari Papua.

TIRTAJAYA, RAKA – Sumber daya alam tentu memiliki potensi ekonomi jika dimanfaatkan dengan baik. Hal inilah yang disadari oleh BUMDes Sejahtera Bahari, Desa Tambaksari, Kecamatan Tirtajaya.
Letak desa yang berada di pesisir pantai utara Karawang dimanfaatkan dengan menjalani usaha makanan aneka olahan ikan bandeng.

Direktur BUMDes Sejahtera Bahari Kiki Syaripudin menuturkan, produk olahan bandeng yang menjadi unggulan di BUMDesnya adalah bandeng gepuk. Produk yang juga kerap disebut sate bandeng ini paling diminati karena dagingnya tanpa tulang. Selain itu ada pula produk lainnya seperti bandeng presto, abon bandeng, otak-otak bandeng, siomay bandeng, baso ikan bandeng, serta nugget dan kaki naga berbahan bandeng. “Ada sarden bandeng juga, yang lebih enak daripada produk sarden yang biasa pakai kalaeng, karena sarden kita ikannya lebih gede dan tulang lunak juga,” tuturnya.

Kiki menceritakan, usaha ini sebetulnya sudah dimulai sejak 2011 silam namun secara penjualan belum maksimal. Pada 2016 BUMDes Sejahtera Bahari mulai fokus menggarap usaha ini dan sampai sekarang sudah mulai banyak dikenal orang.

Dipilihnya usaha ini tentunya untuk memaksimalkan produk unggulan desa (prudes) mengingat banyak tambak bandeng di desa tersebut. “Sehingga bagi kami perlu adanya ikon produk desa, menjual bandeng yang sudah diolah, bukan hanya mentahnya saja,” tambahnya.

Adapun ikan bandeng yang digunakan dibeli langsung dari para petani tambak bandeng setempat. Sejauh ini produksi masih dilakukan ketua unit usaha sebab BUMDes Sejahtera Bahari belum punya aset tempat produksi. Proses produksi juga memberdayakan masyarakat setempat dengan membentuk 3 kelompok olahan ikan bandeng yang setiap kelompoknya sekitar 10 orang

Olahan ikan bandeng tersebut kemudian dikemas dengan melalui proses vacum sealer kemudian dimauskan ke dalam kemasan dus.
Sejauh ini pemasaram masih fokus di Karawang meskipun sebagian juga telah dikirim ke kota lain seperti Jakarta dan Bandung.

Dalam sebulan biasanya kegiatan produksi mereka bisa menghabiskan 5.000 ekor, namun di masa pandemi ini menurun drastis dan paling banyak hanya menghabiskan 1.000 ekor bandeng.

Ia mengatakan, kendala yang dihadapi selama ini adalah permasalahan modal dan pemasaran. Alokasi dana desa yang ada selama ini memang cukup untuk menjalankan usaha tersebut namun tidak cukup untuk berakselerasi misalnya menambah kelompok baru.

Pemasaran pun sejauh ini masih mengandalkan penjualan offline dan online yang sebatas melaui grup Whatsapp. Belum ada pihak yang menjalin kerjasama untuk menjadi pelanggan tetap.

Ia juga berharap kedepan penjualan bisa lebih meningkat, kemudian pihak yang siap menjalin kerjasama untuk menerima suplai produk olahan bandneg mereka secara rutin. Menurutnya ketika permintaan produk olahan bandeng meningkat berarti ada pemberdayaan masyarakat. Hal ini karena anggota kelompok olahan ikan bandeng adalah ibu-ibu atau janda yang tidak punya penghasilan dan menanggung beban keluarga. “Dengan membeli produk kami otomatis membantu kesejahteraan masyarakat kecil,” ungkpnya.

Produk olahan bandeng ini nampaknya bukan hanya menjadi unggulan Desa Tambaksari melainkan juga menjadi produk unggulan Karawang, jika saja pemerintah daerah memberi perhatian lebih.

Buktinya, saat produk olahan bandeng ini dipamerkan di berbagai negara seperti Malaysia dan Korea Selatan, cukup banyak masyarakat setempat yang berminat. Namun sayang nampaknya pemerintah baru bisa membawa produk ini sebatas produk pemeran, belum menjadi produk eksport. (din)

Recommended For You

About the Author: Mang Raka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *