Nalayan Jadi Kuli Angkut Minyak Pertamina

ANGKAT MINYAK MENTAH KE DARAT: Seorang nelayan sedang membawa karung berisi ceceran minyak mentah PHE ONWJ di perairan Karawang menuju daratan Sungaibuntu, kemarin.

Dibayar Rp20 Ribu per Enam Kilogram

CIBUAYA, RAKA – Penanganan minyak mentah akibat kebocoran pipa di area BZZA yang dioperasikan Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) terus dilakukan, saat ini nelayan Sungaibuntu yang turut dilibatkan untuk mengangkat ceceran oil spil, diistirahatkan lantaran cuaca ekstrem.

Sebelumnya, sudah lima hari nelayan Sungaibuntu dipekerjakan untuk mengangkut minyak mentah yang berceceran di perairan pantai Karawang. Namun, selama itu para nelayan yang dilibatkan mengangkut limbah minyak mentah, tidak difasilitasi Alat Pelindung Diri (APD). Sebagaimana Rukun Nelayan Sungaibuntu Warsad mengatakan, sekitar 50 perahu nelayan Sungaibuntu diterjunkan untuk mengangkut gumpalan minyak mentah yang berceceran di area BZZA, tapi para nelayan itu tidak diberi alat pelindung diri, padahal sebagaimana diketahui oil spil yang mereka angkut ini termasuk limbah B3. “Mereka yang bekerja ini gak dikasih APD, ada sekitar 50 perahu di kali saja setiap perahu empat orang, berarti ada sekitar 200 orang,” jelasnya kepada Radar Karawang.

Meski tidak semuanya memakai alat pelindung diri, pihaknya mengaku belum mendapat keluhan dari nelayan yang merasakan sakit atau mual-mual. Hanya saja ada diantara mereka yang merasakan pegal-pegal, dan itu adalah hal biasa bagi para pekerja.

Lebih lanjut kata dia, upah para nelayan yang bekerja mengangkat ceceran minyak itu dihitung sesuai penghasilan seberapa banyak nelayan tersebut dapat mengakut minyak mentah sampai darat. Jadi setiap per enam kilo dihargai Rp20 ribu. Menurut Warsad, ceceran minyak di perairan pantai Karawang masih ada, dan belum sepenuhnya diangkut ke darat.
“Masih ada (minyak), cuma hari ini (kemarin) gak ada kegiatan pengambilan minyak, cuacanya lagi ekstrim,” katanya.

Tarji (31) yang ikut bekerja mengangkat ceceran minyak akibat kebocoran pipa BZZA merasakan bau dari limbah oil spil yang berceceran tersebut. Selain itu, dia juga hanya dengan alat seadanya untuk mengangkat ceceran minyak.
“Agak kesulitan juga buat ngangkatnya, soalnya ini kan pakai jaring kaya gini (kecil),” katanya di bibir pantai Sungaibuntu.

Manager Communications Relations & CID PHE ONWJ Hari Setyono mengaku telah melakukan kerjasama sudah lama dengan nelayan pesisir, dan mereka sering membantu kita dan mereka sudah memahami bahwa selalu harus memakai APD.
“Dan selalu kami himbau untuk selalu memakai APD,” katanya melalui pesan watsaap.

Dia menambahkan, perkembangan penanganan kebocoran pipa di area BZZA sudah maksimal.
“Sudah sangat bagus perkembangannya dalam hal penanganan ceceran minyak, hal ini tentunya karena disupport oleh stake holder terkait dan juga masyarakat nelayan,” ujarnya.

Kemudian Hari Setyono belum memberikan jawaban berapa upah yang diberikan kepada para nelayan yang turut dilibatkan membantu mengangkat ceceran minyak, dan pihaknya juga tidak mengetahui jumlah berapa nelayan yang ikut dipekerjakan.
“Saya gak tahu persisnya,” pungkasnya. (mra)

Recommended For You

About the Author: Mang Raka