Nasib Asyik, tak Seasyik Namanya

JUALAN SIOMAY: Meski tergolong orang tidak mampu, Asyik yang berjualan siomay tidak mendapatkan perlindungan asuransi kesehatan dari pemerintah.

RENGASDENGKLOK, RAKA – Banyak profesi bisa digeluti agar bisa bertahan hidup di Karawang. Terpenting tidak melanggar aturan dan halal. Asyik (34) buktinya. Meski hidupnya tidak seasyik namanya, warga Kampung Pulo Pipisan, Desa Karangjaya, Kecamatan Pebayuran, yang sehari-hari berjualan siomay di Rengasdengklok, mengaku tetap istikomah menjalani profesinya meski sehari hanya dapat Rp60 ribu. “Yang penting saya tidak jadi pencuri. Dagang siomay halal,” katanya kepada Radar Karawang, kemarin.

Ia mengaku sebelum jualan siomay, pernah menjadi tukang rongsok. Namun karena sering sakit-sakitan, akhirnya beralih profesi. “Saya dagang siomay sudah hampir 7 tahunan,” katanya.

Asyik mulai berjualan sekitar pukul 16.00 sampai pukul 23.00. Rutenya dari Pasar Rengasdengklok hingga Gang Ojo. “Kita paling nongkrong di RS Proklamasi, terus sampai Gang Ojo,” katanya.

Asyik mengaku memiliki empat orang anak. Satu diantaranya masih duduk di bangku sekolah dasar. Meski hidup pas-pasan, dia tidak dapat bantuan apapun dari pemerintah. Agar dapur bisa ngebul, Asyik hanya mengandalkan jualan sioamay. “Saya gak dapat Kartu Indonesia Pintar apalagi Indonesia Sehat,” katanya.

Alhasil, jika ada anggota keluarganya yang sakit, di hanya mengandalkan hasil dari penjualan siomay untuk berobat. “Tidak dapat bantuan apa-apa, sembako juga gak dapat, waluapun orang lain pada dapat,” pungkasnya. (mra)

Recommended For You

About the Author: Mang Raka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *