
KARAWANG, RAKA — Di tengah hiruk-pikuk Cibalongsari, sebuah desa dengan lebih dari 43 ribu jiwa, hanya ada dua orang bidan desa yang menjadi ujung tombak layanan kesehatan masyarakat. Salah satunya adalah Eny Susanti, bidan senior yang bukan hanya dikenal karena keahliannya, tapi juga karena dedikasinya yang tanpa batas.
“Cuma dua orang bidan, tapi ibu hamilnya 550,” ucap Eny sambil tersenyum, meski tantangan yang dihadapinya jauh dari mudah. “Kami hanya punya empat tangan, nggak mungkin semuanya bisa tergarap sendiri.”
Untuk menjangkau seluruh ibu hamil yang tersebar di 22 posyandu, Eny bersama rekannya tak bekerja sendirian. Mereka melatih kader-kader posyandu agar bisa menjadi ‘perpanjangan tangan’ mereka di lapangan, mulai dari cara menensi ibu hamil hingga mengenali risiko tinggi kehamilan.
“Kita ajarkan mereka, kita beri pemahaman. Supaya walau bukan tenaga medis, kader-kader ini bisa jadi penjaga pertama kesehatan ibu dan bayi,” jelasnya.
Inovasi tak berhenti di sana. Eny juga memanfaatkan teknologi dan media sosial dengan membentuk berbagai grup WhatsApp: kelas ibu hamil, kelas balita, remaja hingga lansia. Di sanalah edukasi dan promosi kesehatan terus digalakkan.
Tapi semua pengalaman itu belum sebanding dengan tantangan terbesarnya: pandemi COVID-19. Cibalongsari menjadi desa pertama di Karawang yang di-lockdown total. Satu gang bahkan ditutup penuh selama 14 hari.
“Satu desa, satu perumahan, ditutup. Waktu itu rasanya seperti medan perang. Tapi kita nggak mundur,” kata Eny, matanya berbinar mengingat perjuangan saat itu.
Bersama kepala desa dan tim RT, mereka membentuk tiga shift tim pelayanan, lengkap dengan APD penuh meski saat itu harganya selangit. Dapur umum dibuka di balai desa. Makanan bergizi disuplai tiga kali sehari. CSR dan donatur pun turun tangan membantu logistik, vitamin, dan susu untuk balita.
“Alhamdulillah, tidak ada lonjakan penyakit. Bahkan angka stunting bisa ditekan, karena kita pastikan nutrisi mereka terpenuhi,” ujar Eny bangga.
Masa pandemi ternyata membawa dampak lain. “Karena fokusnya ke COVID, banyak yang lupa ber-KB. Jadi angka kehamilan naik, bisa sampai 50-60 kehamilan baru per bulan,” kata Eny.
Meski begitu, mereka tetap melakukan pemantauan ketat, bahkan bagi ibu hamil yang terpapar COVID-19. Kunjungan tetap dilakukan, tentu dengan perlengkapan APD lengkap.
“Nyawa bisa saja terancam, tapi tanggung jawab lebih besar dari rasa takut,” tegasnya.
Kini pandemi telah berlalu, tapi semangat Eny Susanti tetap membara. Di desa dengan ribuan jiwa, ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk melayani. Dengan dua tangan dan dukungan masyarakat, ia terus berjuang memastikan setiap ibu hamil, setiap balita, dan setiap warga mendapatkan hak mereka atas kesehatan.
“Yang penting kita kerja dari hati. Kalau ikhlas, semua pasti ada jalannya,” tutupnya. (uty)



