
PURWAKARTA, RAKA – Pembelajaran berbasis potensi lokal terus dikembangkan di SDN 1 Cirangkong, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Purwakarta.
Melalui pengolahan buah nangka hasil kebun sekolah menjadi wajik nangka, sekolah ini tidak hanya menanamkan nilai karakter kepada siswa, tetapi juga mulai merancang keberlanjutan produk tersebut ke depan.
Kegiatan yang menjadi bagian dari Pendidikan Karakter Tatanen di Bale Atikan (TdBA) itu menjadikan kebun sekolah sebagai ruang belajar. Siswa dilibatkan langsung dalam proses pengolahan pangan, mulai dari mengenal bahan baku hingga menghasilkan wajik nangka yang siap dikonsumsi.
Kepala SDN 1 Cirangkong, Nina Setianingsih, mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar pembelajaran terasa dekat dengan kehidupan siswa. Menurutnya, pengolahan hasil kebun memberi pengalaman nyata sekaligus menumbuhkan sikap kreatif dan mandiri.
“Anak-anak belajar dari apa yang ada di sekitar mereka. Dari buah nangka, mereka bisa melihat bagaimana sesuatu diolah menjadi produk yang punya nilai,” kata Nina, Rabu (14/1).
Ia menjelaskan, ke depan sekolah tidak ingin kegiatan ini berhenti sebatas praktik pembelajaran. Wajik nangka hasil olahan siswa direncanakan terus dikembangkan agar memiliki kualitas yang lebih baik dan dapat dikenal lebih luas.
“Kami ingin wajik nangka ini berkembang, baik dari rasa, kemasan, maupun cara pemasarannya. Harapannya bisa menjadi produk khas SDN 1 Cirangkong,” ujarnya.
Menurut Nina, seluruh warga sekolah dilibatkan dalam proses tersebut. Guru berperan sebagai pendamping, sementara siswa menjadi pelaku utama dalam setiap tahapan kegiatan. Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis praktik dan memaksimalkan pemanfaatan hasil kebun sekolah.
Selain melatih keterampilan, kegiatan ini juga memperkenalkan konsep kewirausahaan sejak dini. Siswa diajak memahami bahwa hasil alam dapat diolah dan dikembangkan secara berkelanjutan, bukan hanya untuk kebutuhan sesaat.
Nina berharap pengembangan wajik nangka ke depan dapat membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, sekaligus menjadi media pembelajaran yang terus berkembang.
“Diharapkan siswa tumbuh dengan karakter peduli lingkungan, kreatif, dan mampu melihat potensi di sekitarnya sebagai peluang,” pungkasnya. (yat)



