Gelorakan Semangat Budaya, Anak-anak Purwakarta Kembali Akrab dengan Kaulinan Barudak di Akhir Pekan

PURWAKARTA, RAKA– Melalui kegiatan bertajuk Kaulinan Barudak memperkenalkan kembali berbagai permainan khas masa lalu setiap akhir pekan di Taman Surawisesa.
Kegiatan yang berlangsung rutin setiap Sabtu dan Minggu di Taman Budaya Surawisesa ini menjadi sarana bagi anak-anak untuk belajar sekaligus bersenang-senang tanpa layar gadget. Beragam permainan tradisional kembali menggema di area taman.
Program Kaulinan Barudak merupakan bagian dari inisiatif pendidikan berkarakter di Purwakarta yang menekankan pentingnya pelestarian budaya lokal.
Baca Juga: Perundungan di Sekolah Masih Terjadi, Ini Penyebabnya
Selain mengajarkan nilai sportivitas dan kebersamaan, permainan tradisional ini juga menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya Sunda dan lingkungan sekitar.
Menurut Koordinator Pelaksana Kaulinan Barudak, Rudi Iskandar, kegiatan ini mendapat dukungan luas dari berbagai pihak, terutama orang tua dan guru.
“Pemilihan Taman Surawisesa sangat tepat karena merupakan ruang publik yang luas dan terbuka bagi siapa saja. Anak-anak bisa bermain bersama, melupakan sejenak gadget-nya, dan belajar nilai kebersamaan dari permainan tradisional,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Tonton Juga: Bapak Dan Anak Mendadak Bisu
Kegiatan ini melibatkan sekolah-sekolah dari berbagai wilayah di Purwakarta secara bergiliran. Setiap akhir pekan, kelompok siswa dari jenjang PAUD dan SD mengikuti kegiatan mulai pukul 07.00 hingga 09.00 WIB, dengan pendampingan guru dan komunitas budaya lokal.
Bagi orang tua siswa, kegiatan ini membawa angin segar. Salah satu orang tua peserta, Siti Marlina (34), mengaku senang melihat anaknya kembali aktif bermain di luar rumah.
“Sekarang anak saya jadi lebih ceria dan banyak teman. Biasanya kalau di rumah cuma main HP. Di sini dia bisa lari-larian, tertawa, dan belajar kerja sama dengan teman-temannya,” ujarnya.
Orang tua lainnya, Rachmat (37), menilai kegiatan seperti ini memberikan dampak positif terhadap perkembangan sosial anak.
“Anak saya jadi lebih berani berinteraksi dan tidak lagi betah di depan layar. Saya berharap kegiatan ini tidak hanya diadakan di taman budaya saja, tapi juga bisa digelar di lingkungan sekolah atau desa supaya lebih banyak anak yang ikut,” tuturnya. (yat)



