Purwakarta

Harga Cabai Rawit Mahal

PURWAKARTA, RAKA – Harga cabai rawit di sejumlah Pasar Tradisional di Kabupaten Purwakarta mengalami kenaikan. Meroketnya harga komoditas cabai ini ditenggarai pasokan dari para petani menurun.

Pantauan Radar karawang di Pasar Tradisional di Kecamatan Plered, Purwakarta, kenaikan harga cabai rawit telah terjadi sejak satu pekan terakhir. Kenaikannya pun cukup signifikan hingga tiga kali lipat dari harga normal. “Minggu lalu harga cabai rawit Rp24.000 per kg, sekarang Rp80.000 per kg,” kata salah satu penjual sayuran di Pasar itu, Asep (30), akhir pekan lalu.

Asep mengaku, terpaksa menaikan harga untuk menghindari angka kerugian. Apalagi saat ini untuk memperoleh cabai rawit cukup sulit. “Saya biasa belanja sayuran ke Pasar Induk Cikopo, atau menunggu kiriman bandar sayuran yang datang ke Pasar Jokowi ini dari Ciwidey Bandung,” katanya.

Ia menyebut, kenaikan harga cabai rawit di Purwakarta ditengarai akibat terbatasnya stok dan langkanya pasokan dari petani, sehingga tumbuhan anggota genis Capsicum yang populer di Asia Tenggara tersebut menjadi sangat mahal. “Berbeda dengan bahan sayuran atau bumbu lainya, seperti bawang putih, bawang merah dan tomat, cabai rawit jika musim kemarau memang sulit didapat, hingga harganya melambung tinggi,” ucapnya.

Meski begitu, ia menambahkan, peminat cabai rawit tak pernah surut meski harganya melambung tinggi. Sehingga dirinya tetap menyetok cabai rawit setiap harinya, hanya saja jumlah stok di toko tidak seperti biasanya. “Alhamdulillah walau mahal karena cabai ini favorit banyak orang jadi penjualanya tetap stabil,” ujar Asep.

Terpisah, Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Koperasi UKM, Perdagangan dan perindustrian, Wita Gusrianita mengatakan, kenaikan harga cabai rawit dampak dari musim kemarau yang terjadi setiap tahunnya.

Selain itu, dalam produksi tanam para petani dikeluhkan adanya serangan hama yang berpengaruh terhadap hasil panen tidak maksimal. “Intinya dampak dari faktor cuaca yang mengakibatkan menurunnya pasokan ke pasar. Selain itu Purwakarta memang bukan daerah yang berpotensi penghasil cabai atau cabai rawit,” ujar Wita.

Ia menambahkan, sebagai antisipasi pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Pangan dan Pertanian dalam hal ketahanan pangan. Bahkan ia juga mengaku akan berkoordinasi dengan pemerintah provinsi atau pun pusat dalam hal kebijakan pengendalian harga. “Dengan cara seperti itu diharapkan kenaikan cabai rawit dapat diminimalisir,” pungkasnya. (gan)

Related Articles

Back to top button