Mutu Rebranding

BERSAMA PEMATERI: Sejumlah guru SMK TI Muhammadiyah 1 Cikampek bersama pemateri dari Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Bidang Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika Malang, usai mengikuti workshop SMK Pusat Keunggulan.

Ubah Wajah Pembelajaran

KOTABARU, RAKA – Bekerja, melanjutkan dan wirausaha biasa disebut BMW oleh praktisi pendidikan di dunia SMK. Hal sama pun kerap didengungkan oleh Dirjen Vokasi. Kekinian, hal itu mulai bergeser karena sempitnya lapangan pekerjaan tidak sebanding dengan banyaknya lulusan SMK setiap tahun. Dalam wajah baru dunia SMK, BMW bergeser menjadi Wirausaha, Melanjutkan, Bekerja (WMB). Ini dianggap solusi dari persoalan lambatnya serapan lulusan SMK di dunia industri. Hal itu terungkap saat workshop penyusunan program pembelajaran SMK Pusat Keunggulan di SMK TI Muhammadiyah 1 (Mutu) Cikampek, selama dua hari.

Pemateri dari Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Bidang Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika Malang, Muhamad Syarif mengatakan, pola kegiatan belajar mengajar tidak boleh biasa saja. Para guru harus mampu melakukan kolaborasi, agar peserta didik tidak hanya cakap dalam kemampuan akademik, tapi juga berakhlak mulia. “Kalau hanya untuk membuat anak bisa menguasai sepeda motor atau mobil, cukup beberapa bulan saja. Tapi, untuk menumbuhkan karakter positif anak, itu memerlukan waktu yang lama,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, kolaborasi antarguru mata pelajaran dengan pengampu produktif harus dilakukan dengan serius. Agar tidak ada materi pelajaran yang sia-sia diperoleh oleh peserta didik. “Guru matematika harus mengajarkan apa yang dibutuhkan oleh anak Teknik Kendaraan Ringan. Demikian dengan anak Teknik Komputer Jaringan,” ujarnya.
Dia merinci, setiap jurusan memiliki kebutuhan yang berbeda dari setiap mata pelajaran pendukung lainnya. Artinya, kata Syarif, setiap materi yang diajarakan kepada peserta didik, harus disesuaikan dengan materi yang diperoleh anak saat mempelajari materi produktif. “Tidak bisa materi Bahasa Indonesia disamakan ke seluruh jurusan. Karena kebutuhan peserta didik di setiap jurusan berbeda-beda,” ungkapnya.

Menurut Syarif, jika setiap guru mapel normatif dan adaptif berkolaborasi dengan guru produktif, akan menghasilkan lulusan yang tidak hanya siap menjadi wirausaha, melanjutkan ke perguruan tinggi atau bekerja. Tapi juga bisa mencetak lulusan yang beraklak mulia. “Guru P5BK (Program Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Budaya Kerja) memberi penguatan terhadap karakter anak Teknik Mesin misalnya, maka saat anak lulus tidak hanya jago mengelas, tapi juga jujur dan berintegritas serta kreatif,” tuturnya.

Kepala SMK TI Muhammadiyah 1 Cikampek Dede Setiabudi mengatakan, sekolahnya menjadi salah satu sekolah yang ditunjuk menjadi SMK Pusat Keunggulan. Tidak banyak di Karawang yang mendapatkan program tersebut. “Alhamdulillah kami terpilih dari sekian banyak SMK di Indonesia. Ini menjadi langkah awal yang baik, agar sekolah kami bisa mencetak lulusan yang tidak hanya siap kerja tapi juga berjiwa wirausaha, bahkan bisa melanjutkan ke perguruan tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, pelatihan ini bisa membuat paradigma baru soal wajah pembelajaran. Para pendidik tidak hanya memberikan materi pelajaran, tapi juga memiliki keinginan yang kuat untuk mencetak peserta didik yang memiliki etos kerja yang kuat, berintegritas dan berakhlak mulia. Panitia pelaksana kegiatan, Faisal Rahman mengatakan, workshop yang digelar dua hari ini menggandeng para ahli. Diantaranya dari Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Bidang Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika Malang. “Alhamdulillah tadi terlihat guru-guru sudah sangat terbuka pemahamannya dan mau bergerak melakukan perubahan, mencetak anak-anak yang berkarakter, memiliki etos budaya kerja yang tinggi,” tuturnya. (psn)