Terlalu Lama Libur, Anak Sulit Dikontrol

ISI WAKTU: Sejumlah ibu rumah tangga mengisi waktu luangnya bermain congklak. Mereka berharap agar sekolah kembali diaktifkan karena anak-anak terlalu banyak bermain di rumah sehingga tidak ada aktivitas belajar.

KOTABARU, RAKA – Para orang tua siswa berharap masa pandemi Covid-19 bisa secepatnya berlalu, pasalnya selama masa libur sekolah, para siswa sulit diatur dan menghabiskan waktu dengan bermain.

Warga Desa Wancimekar RT 02/02, Desa Wancimekar, Kecamatan Kotabaru Hapidoh (47) mengatakan, setiap hari ia selau disibukkan dengan pekerjaannya sebagai perajin topi. Selama masa libur sekolah, ia memiliki beban lebih karena harus menjaga anaknya dengan ketat untuk tidak menghabiskan waktu libur sekolah dengan bermain.”Bandel banget, saya sudah larang anak saya untuk tidak bermain tapi malah nangis, karena maunya main terus,” ucapnya, kepada Radar Karawang, Senin (1/6).

Ia menambahkan, pada saat bulan suci Ramadan saja anaknya sering keluar rumah pada saat malam hari tanpa sepengetahuan dirinya, hal itu karena beberapa temannya yang masih duduk di bangku sekolah dasar mengajak anaknya untuk bermain. “Sebenarnya kalau tidak diajak temam-temannya anak saya juga tidak akan keluar, jadi diam-diam anak saya keluar rumah, saya tidak tahun kapan sekolah bisa masuk lagi, jujur saja saya sudah pusing dengan anak saya yang maunya main terus, soalnya kalau sudah masuk sekolah anak saya tidak akan berani main,” tambahnya.

Hal serupa disampaikan warga lainnya Wahyudin, meskipun usaha konveksinya sedang sepi karena wabah virus corona, namun ia lebih memilih aktifitas sekolah anaknya bisa berjalan seperti biasanya. “Kalau masalah uang jajan buat anak saya sekolah bisa saya pikirkan lagi, walau pembuatan topi sedang sepi, yang penting masuk saja dulu sekolah, saya juga bingung anak saya maen terus, takutnya kebawa hal-hal yang tidak baik sama teman-temannya,” paparnya.

Masih dikatakannya, ia juga meminta kepada seluruh orang tua untuk bekerjasama menjaga anak-anaknya selama masa libur sekolah, sehingga dapat meminimalisir ajakan-ajakan untuk berkumpul dan bermain di luar rumah, tentunya hal itu juga dinilai berbahaya dari wabah virus corona. “Percuma kalau saya paksa anak saya tidak keluar rumah tapi banyak teman-temannya yang main di luar, anak saya jadi nangis karena ingin bermain di luar seperti teman-temannya, jadi harus kerjasama dengan orang tua lainnya juga,” pungkasnya. (mal)

Recommended For You

About the Author: Mang Raka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *