100 Hari Kerja Rektor Unsika Dikritik Mahasiswa

KARAWANG, RAKA – Ratusan mahasiswa Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) berunjuk rasa di depan gedung H Opon Sopandji. Aksi demontrasi mahasiswa Unsika berangkat dari kebijakan seratus hari kerja rektor yang meresahkan mahasiwa.

Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Teguh Febriyan mengatakan sejak rektor perempuan pertama Unsika dilantik sudah ada beberapa kebijakan yang membuat mahasiswa resah.
“Kurang lebih yang kita kaji ada tujuh isu, jadi tujuh isu itu masih menjadi polemik di kalangan mahasiswa,” jelasnya kepada Radar Karawang

Lebih lanjut Teguh menyebut dari tujuh isu itu ada tiga masalah yang menjadi krusial dan ramai dijagat sosial media yakni Iuran Pengembangan Institusi (IPI), Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan kualitas pelayanan kepada mahasiswa. Meski demikian pihaknya tidak melupakan tujuh isu yang sudah dikaji dengan Ormawa se-Universitas Singaperbangsa.
“Kita harap rektor menerima, kemudian mempertimbangkan serta melaksanakan saran dan tuntutan itu,” paparnya.

Aksi mahasiswa ini dinilai sebagai bentuk amarah mahasiwa terhadap kebijakan kampus. Sehingga, Teguh akan terus bergerak agar tuntutan yang dibawa bisa terpenuhi.
“Sebetulnya kita tidak ingin IPI ini diterapkan di tahun ini apalagi saat ini kita baru terkena pandemi (dan) itu sangat tidak tepat waktu,” ujarnya.

Teguh menambhakan kebijakan penentuan biaya IPI mulai dari belasan juta hingga puluhan juta tersebut tidak turut melibatkan mahasiswa.

Koordinator Program Studi S2 Manajemen Unsika, Dr. Sony Hersono mengatakan setiap kebijakan kampus akan dievaluasi hal itu sebagai feedback untuk kebijakan berikutnya.
“Jadi pasti evaluasi akan kami lakukan terus sebagai feedback untuk kebijakan berikutnya,” pungkasnya. (mra)

Recommended For You

About the Author: Redaksi Radar Karawang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *