Digembleng Tiga Hari di Gunung
-Jadi Pandu Hizbul Wathan

KARAWANG, RAKA – Berbaret hijau, berhasduk hijau strip putih, berkemeja coklat kheki, bercelana biru, sejumlah anak berbaris rapi bersiap mengikuti apel pembukaan Taruna Melati 1. Mereka adalah anak-anak yang aktif di Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan.
Tidak mudah jadi kader Hizbul Wathan (HW). Mereka harus mengikuti kegiatan Taruna Melati 1 selama tiga hari di pegunungan, jauh dari rumah. Seperti yang dilakoni anak-anak pandu HW Cikampek. Mereka diberi banyak pengetahuan dasar kepanduan Hizbul Wathan. Mulai dari undang-undang Hizbul Wathan, dasar-dasar survival, pionering, mountenering, kemuhammadiyahan, Al Islam, hingga dasar-dasar perkemahan. Meski harus serba mandiri, mulai dari mendirikan tenda hingga memasak, mereka tampak bergembira mengikuti penggemblengan tersebut. “Kegiatannya seru, tidak ngebosenin,” ungkap Sandi (15).
Ia melanjutkan, selama kegiatan dia sangat bersemangat mengikuti materi yang sudah disiapkan oleh panitia. Menurutnya, kepanduan Hizbul Wathan sangat berbeda dengan kepanduan yang pernah dia tahu saat SMP. “Di Hizbul Wathan kita benar-benar dididik menjadi pandu muslim sejati. Terutama pasal solat, benar-benar sangat diperhatikan,” tuturnya.
Hal serupa disampaikan oleh Salman. Menurutnya, pandu Hizbul Wathan selain mengajarkan rasa peduli terhadap sesama, jujur dan tanggung jawab, juga sangat menekankan ketaatan kepada Allah SWT. “Semua kegiatan yang berlangsung bergembira dan menyenangkan, langsung dihentikan saat azan berkumandang. Kita semua langsung ke salat berjamaah di area perkemahan. Ini berbeda dengan kepanduan lagi,” tuturnya.
Ketua Kwarcab Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Cikampek Muslihat mengatakan, pandu Hizbul Wathan diajarkan bagaimana meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT. “Ini sangat penting, karena akidah yang kuat akan menghasilkan pandu yang hebat,” tuturnya.
Pria yang akrab disapa Jaing itu melanjutkan, kegiatan diawali dengan salat tahajud hingga materi dasar kepanduan Hizbul Wathan. “Mereka antusias, dan semakin memahami Hizbul Wathan. Terutama sejarah kepanduan di Indonesia,” tuturnya. (psn)