Pasien TBC Harus Disiplin Minum Obat, Jika Terlewat, Penyakit Sulit Sembuh

KARAWANG, RAKA- Saat terkena tuberkulosis atau (TBC) yang dipicu oleh kuman atau bakteri, seorang pasien harus patuh dan disiplin mengonsumsi obat. Jika tidak, kuman akan sulit mati dan rentan mengalami kekambuhan. Penularan TBC kepada orang lain juga rentan terjadi.
Penyebaran penyakit menular ini masih tinggi, termasuk di Karawwang. Agar masyarakat mengerti tentang TB, komunitas yang fokus menangani TBC STPI-Penabulu melakukan sosialisasi kepada warga Pagadungan, Desa Purwasari, Kecamatan Purwasari. Kegiatan ini untuk mengedukasi masyarakat agar lebih peka lagi terhadap penyakit TBC. “IU Kabupaten Karawang melakukan sosialisasi guna untuk penjaringan penyakit TBC, sosialisasi ini dilakukan di wilayah Purwasari yang tentunya didukung oleh Puskesmas Purwasari,” kata Finance IU Kabupaten Karawang Nenden Fatmawati, beberapa waktu lalu.
Sosialisasi dilakukan juga di beberapa wilayah yang dilihat dari kasus atau kantung terbanyak di wilayah Karawang. IU Kabupaten Karawang STPI-Penabulu mengajak semua masyarakat untuk tetap waspada terhadap penyakit ini karena penyakit TBC sangat cepat menular dan kasus d Karawang sangat banyak. Di Kecamatan Purwasari, saat ini ada sekitar 144 orang yang mengidap TB. “Semester 1 ada 144 orang,” terangnya.
Data Kementerian Kesehatan, pengobatan TBC harus diminum jangka panjang setidaknya selama 8 bulan. Tahap awal yakni rutin selama 2 bulan atau 3 bulan diminum setiap hari. Tahap lanjutan atau 4 bulan atau 5 bulan diminum 3x/minggu.
Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan masyarakat mengenal TBC sebagai TB atau TB paru. Tak hanya di paru-paru, TB bisa menyerang di mana-mana seperti di kulit dan tulang. “Ini jadi ancaman serius, tak hanya sebabkan sakit pada pasien, tapi bisa menurunkan kualitas hidup pasien. Sebab pengobatannya harus lama, dan bahkan pasien sering kambuh ya,” katanya, Rabu (31/8).
Dicky menyebutkan Indonesia salah satu negara yang menjadi spot riset soal TBC. Menurutnya, ancaman resistensi atau tak mempan diobati pada TBC juga tinggi. “Mengapa resisten, itu karena banyak pasien enggak disiplin, enggak patuh pengobatan TBC yang relatif lama,” jelasnya.
Dicky menilai target Indonesia bebas TBC pada tahun 2035 sulit tercapai jika semua stakeholder tak sungguh-sungguh soal ini. Indonesia memiliki program Stop TB untuk gencar mengakhiri kuman TBC. “Ini sisa 13 tahun lagi. Dan itu dalam analisa saya terakhir, disebut sulit tercapai. Upaya global mengakhiri penyakit TB ini isinya atau strateginya untuk bukan hanya bebas kumannya ya, tetapi jangan sampai ada kematian, dan juga tak ada kasus di masyarakat,” jelasnya.
Setidaknya ada 4 strategi memberantas kuman TBC. Pertama, aspek mencegah penularan dengan meningkatkan kualitas udara, sanitasi, ventilasi sirkulasi rumah harus lebih sehat. Kedua adalah early detection atau deteksi dini agar lebih kecil menularkan. Ketiga, harus ada pengobatan atau treatment yang tepat dan lama serta pemantauan yang tepat. Terakhir, manajemen dalam mengatur efek ekonomi yang turut menyumbang angka kasus TBC. Pasalnya, TBC umumnya diderita oleh kelas ekonomi menengah ke bawah hingga pasien HIV AIDS. (asy/jpg)