HEADLINE

Utamakan Porsi Belanja Pendidikan, Atasi Sekolah Ambruk

KARAWANG, RAKA- Banyaknya sekolah ambruk beberapa waktu terakhir, salah satu penyebabnya disinyalir karena Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang tidak memprioritaskan persoalan pendidikan.
Anggota DPR RI Syaiful Huda meminta Pemkab Karawang membuat terobosan. Bila sektor pendidikan tidak jadi prioritas utama, efeknya adalah banyak sekolah roboh. “Banyak sarana dan prasarana pendidikan di wilayah kabupaten kota yang tidak terurus dengan baik. Sekadar renovasi saja tidak bisa, apalagi bikin unit sekolah baru,” katanya, Selasa (13/9).
Anggota DPR Ri dari daerah pemilihan Karawang dan Bekasi ini menambahkan, pemkab harus memprioritaskan anggaran di sektor pendidikan, selain prioritas di sektor ekonomi. Pemkab mestinya mengutamakan dua sektor itu dalam belanja APBD. Sebab, sektor ekonomi penting untuk pemulihan pascapandemi Covid-19. Sedangkan sektor pendidikan penting untuk menyiapkan sumber daya manusia. “Kami ingin porsi belanja untuk pendidikan diutamakan supaya agenda kita untuk menyiapkan sumber daya manusia yang terbaik tidak terpengaruhi oleh faktor karena belanja yang tidak prioritas untuk dunia pendidikan,” terangnya.
Saat ini Komisi X DPR RI sedang memperjuangan agar anggaran pendidikan 20 persen dari APBN digunakan sepenuhnya untuk fungsi pendidikan. Tahun ini, kata Huda, Kemendikbud hanya mengelola Rp82 triliun. Padahal 20 persen dari APBN berarti setara dengan Rp600 triliun. “Ini masih jauh banget. Ini jadi PR. Kami berharap (anggaran) 20 persen untuk pendidikan digunakan sepenuhnya untuk fungsi pendidikan,” tutupnya.
Sebelumnya, untuk kesekian kalinya, ruang kelas sekolah dasar di Kabupaten Karawang ambruk. Kali ini terjadi di SDN Jatimulya V Kecamatan Pedes, Kamis (8/9) pagi. Beruntung saat peristiwa itu terjadi, tidak ada anak-anak yang berada di sekitar ruang kelas yang dibangun tahun 2009 silam itu.
Sebelumnya, pihak sekolah seolah sudah mengetahui ruang kelas itu akan roboh. Sebab dua tahun terakhir ruangan itu sudah tidak digunakan untuk kegiatan belajar, lantaran kondisi atap bangunan sudah rapuh.
Guru kelas VI SDN Jatimulya V Gandi mengatakan, bangunan yang roboh itu sebelumnya dijadikan tempat belajar untuk kelas VI. Karena kondisi bangunan sudah rapuh dan lantainya pun sudah rusak, sehingga tidak ditempati lagi untuk kegiatan belajar.
“Dua tahun gak dipakai karena kondisi bangunan sudah lapuk kayak gini,” katanya kepada Radar Karawang saat ditemui di SDN V Jatimulya, Kamis (8/9).

Lebih lanjut kata Gandi, ruang kelas yang roboh itu merupakan bangunan tahun 2009 dan sudah tidak digunakan lagi dalam dua tahun terakhir. Pertimbangannya karena kondisi bangunan banyak yang rusak. Pihak sekolah sudah mengusulkan untuk perbaikan, tapi sampai roboh seperti ini belum juga diperbaiki.
“Sudah diusulkan, pak Korwilcambidik (Pedes) bilangnya ini anggaran tahun 2023,” ujarnya.

Gandi meminta Korwilcambidik agar segera memperbaiki ruang kelas yang rusak ini, sehingga tidak harus menunggu tahun 2023.
“Kenyataannya sudah (rusak) begini, masa harus mengikuti terus anggaran 2023. Mungkin ada dana talang atau apa gitu,” tegasnya. (asy/mra)

Related Articles

Back to top button