
PURWAKARTA, RAKA – Hujan deras disertai angin kencang menerjang Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, Rabu (31/12) sore.
Peristiwa yang datang tiba-tiba itu mengakibatkan kerusakan pada puluhan bangunan warga di dua desa, yakni Desa Cisaat dan Desa Cimahi. Berdasarkan informasi di lapangan, total 29 bangunan terdampak.
Rinciannya, 22 bangunan berada di Desa Cisaat dan tujuh lainnya di Desa Cimahi. Selain rumah tinggal, fasilitas penunjang mata pencaharian warga seperti kandang ternak sapi dan penggilingan padi turut mengalami kerusakan. Angin kencang yang muncul sekitar pukul 16.00 WIB tersebut sempat disertai suara gemuruh sehingga memicu kepanikan warga.
Ketua RT 12/RW 04 Desa Cisaat, Nersi, mengatakan hembusan angin kuat itu diduga merupakan angin puting beliung.
“Awalnya terdengar suara angin bergemuruh. Tidak lama kemudian warga berteriak ada rumah yang terkena puting beliung. Setelah dicek, ternyata banyak bangunan yang rusak,” kata Nersi, Kamis (1/1).
Ia menjelaskan, sebagian besar kerusakan di Desa Cisaat tergolong berat. Atap rumah warga beterbangan dan beberapa di antaranya ambruk hingga ke tanah. Sementara kerusakan ringan umumnya berupa genteng yang terlepas akibat terpaan angin.
“Kalau yang berat itu atapnya sampai roboh, sedangkan yang ringan kebanyakan gentengnya lepas dan berserakan,” ujarnya.
Selain merusak bangunan, angin kencang juga menyebabkan sejumlah pohon tumbang. Meski demikian, Nersi memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam kejadian tersebut. “Alhamdulillah, tidak ada korban. Semua warga selamat,” katanya.
Saat kejadian, sebagian besar warga diketahui berada di rumah karena aktivitas di sawah telah selesai menjelang hujan turun. Bahkan, beberapa warga sempat terjebak di dalam rumah akibat kuatnya dorongan angin dari luar.
“Ada yang mau keluar rumah tapi tidak bisa karena anginnya mendorong dari luar. Jadi terpaksa bertahan di dalam,” tutur Nersi.
Usai angin mereda, warga langsung bergerak melakukan gotong royong memperbaiki rumah masing-masing, terutama bagian atap. Langkah itu dilakukan karena hujan gerimis masih turun dan air mulai masuk ke dalam rumah.
“Sebagian warga sempat mengungsi, tapi setelah atap dibetulkan seadanya, sekarang sudah kembali ke rumah,” ujarnya.
Salah seorang warga terdampak, Royosukandi (53), mengaku peristiwa tersebut meninggalkan rasa takut. Ia mengatakan angin datang dengan sangat kuat dan membuat warga panik.
“Anginnya besar sekali, semua orang takut. Yang sedang di luar langsung mencari tempat aman,” katanya.
Hingga Kamis (1/1) pagi, warga masih melakukan perbaikan mandiri sambil menunggu bantuan dan penanganan lebih lanjut. Pemerintah setempat diharapkan segera melakukan pendataan lanjutan, khususnya terhadap rumah-rumah yang mengalami kerusakan berat, agar penanganan dapat segera dilakukan. (yat)



