
KARAWANG, RAKA – Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dinilai tidak cukup hanya dirayakan dengan upacara, perlombaan, dan berbagai kegiatan seremonial. Masih banyak pekerjaan rumah pemerintah yang mesti diselesaikan.
Persoalan kesempatan kerja, keberlanjutan lahan pertanian, pendidikan, hingga kebebasan berpikir generasi muda dinilai perlu menjadi bahan refleksi.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum KMIK Yayan Hidayat yang menyoroti kondisi Karawang sebagai daerah yang memiliki posisi penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Menurutnya, Karawang memiliki identitas sebagai Kota Pangkal Perjuangan.
eristiwa Rengasdengklok menjadi salah satu catatan penting ketika para pemuda mengambil sikap untuk mendorong percepatan Proklamasi Kemerdekaan. Namun, 81 tahun setelah kemerdekaan, menurutnya masih terdapat berbagai persoalan yang perlu mendapatkan perhatian, khususnya yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan generasi muda.
“Di balik hiruk-pikuk seremoni tahunan republik ini, pertanyaan paling mendasar justru sering luput. Kita ini sebenarnya sudah merdeka dari apa?”katanya, Senin (17/8).
Ia menilai Karawang saat ini menghadapi sebuah paradoks. Di satu sisi, Karawang dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional. Namun, di sisi lain, perkembangan kawasan industri dan pembangunan dinilai terus memberikan tekanan terhadap keberadaan lahan pertanian. Karawang juga dikenal sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Asia Tenggara dengan aktivitas ribuan perusahaan.
Besarnya aktivitas ekonomi tersebut, kata dia, seharusnya diikuti dengan semakin terbukanya kesempatan kerja yang adil bagi masyarakat lokal, khususnya pemuda Karawang.
“Banyak anak muda Karawang yang masih menganggur, bahkan terjebak dalam praktik percaloan kerja yang memaksa mereka membayar belasan juta rupiah hanya untuk sekadar menjadi buruh kontrak di tanah airnya sendiri,” katanya.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya menjadi masalah Karawang, tetapi juga merupakan gambaran dari tantangan yang dihadapi generasi muda Indonesia.
Ia menyebut generasi muda saat ini menghadapi berbagai persoalan, mulai dari biaya pendidikan, ketatnya persaingan kerja, ancaman PHK, minimnya lapangan pekerjaan hingga upah yang dinilai belum sebanding dengan kebutuhan hidup.
Selain itu, ruang digital yang seharusnya dapat menjadi sarana pendidikan dan emansipasi masyarakat, menurutnya, juga menghadapi persoalan berupa penyebaran hoaks, gimik politik, dan hiburan yang berpotensi mengikis daya kritis generasi muda.
“Generasi muda yang digadang-gadang akan memimpin Indonesia Emas justru sedang menghadapi berbagai kecemasan,” ujarnya.
Ia menegaskan, kemerdekaan tidak semestinya hanya dimaknai melalui kegiatan seremonial setiap 17 Agustus. Menurutnya, kemerdekaan harus diwujudkan melalui kedaulatan masyarakat atas ruang hidup, kesempatan memperoleh pekerjaan secara adil, perlindungan terhadap petani, serta kebebasan mahasiswa dan masyarakat dalam menyampaikan kritik.
“Merdeka hari ini seharusnya berarti kedaulatan penuh atas ruang hidup. Kemerdekaan adalah ketika seorang pemuda tidak perlu menyuap untuk mendapatkan haknya bekerja,” terangnya.
Ia juga mengajak mahasiswa untuk kembali menghidupkan semangat pemuda Rengasdengklok. Menurutnya, semangat tersebut dapat diwujudkan bukan melalui tindakan fisik, melainkan melalui keberanian untuk mengkritisi persoalan bangsa dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
“Bagi saya dan bagi kita semua di KMIK, semangat Rengasdengklok itulah yang hari ini harus kita hidupkan kembali. Bukan dengan cara menculik fisik, melainkan ‘menculik’ narasi kebangsaan yang selama ini dibajak oleh kepentingan segelintir elite,” ujarnya.
Ia menambahkan, mahasiswa tidak seharusnya hanya berperan sebagai panitia dalam perayaan kemerdekaan. Mahasiswa juga harus menjadi kelompok intelektual yang mampu mengawal kebijakan, menyampaikan kritik, serta mengingatkan pemerintah ketika terdapat kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat.
“Perayaan kemerdekaan tahun ini bukan waktunya untuk sekadar bersorak. Ini waktunya untuk marah yang terukur, bergerak yang terstruktur, dan kembali mengingatkan bangsa ini bahwa kemerdekaan bukanlah warisan yang bisa kita nikmati sambil duduk manis,” pungkasnya.
Menurutnya, kemerdekaan merupakan proses yang harus terus diperjuangkan. Karena itu, momentum HUT ke-81 RI diharapkan tidak berhenti pada kemeriahan seremoni, tetapi menjadi ruang refleksi untuk memastikan kemerdekaan benar-benar dirasakan seluruh masyarakat.(zal)



