Purwakarta
Trending

Industri Kerajinan Kulit Merosot

‎Stok Kulit Menumpuk di Gudang

PURWAKARTA, RAKA – Lesunya industri kerajinan kulit ikut memukul mata rantai usaha di tingkat bawah. Di Kabupaten Purwakarta, tumpukan kulit domba dan kambing yang tak terserap pasar kini menjadi potret nyata perlambatan ekonomi sektor tersebut.

‎Di sebuah gudang penyimpanan di kawasan Jalan Purnawarman Barat, Kelurahan Sindangkasih, Kecamatan Purwakarta, ribuan lembar kulit terlihat menumpuk. Kondisinya jauh dari ideal, lembap, menghitam, bahkan sebagian rusak karena terlalu lama tersimpan. Bau menyengat khas kulit mentah pun tak terhindarkan.

‎Pemilik gudang sekaligus pengepul kulit, Islam Bajuber, mengakui situasi ini menjadi titik terberat sepanjang ia menekuni usaha tersebut. Selama bertahun-tahun, ia rutin memasok bahan baku ke sentra kerajinan kulit di Garut, Cirebon, dan Kuningan. Namun kini, permintaan nyaris terhenti.

‎Islam menyebut, omzet usahanya anjlok drastis hingga sekitar 80 persen. Dari yang sebelumnya mampu menjual ribuan lembar kulit setiap bulan, kini penjualannya tak sampai seperlima dari kondisi normal.

‎“Dulu bisa kirim sampai belasan ribu lembar. Sekarang sebulan paling banyak hanya ratusan. Barang menumpuk, rusak, akhirnya jadi kerugian,” ungkapnya, Kamis (15/1).

‎Ia menilai penurunan ini dipicu melemahnya industri kerajinan kulit di daerah-daerah tujuan pemasaran. Penampung besar yang biasanya rutin membeli, kini jarang bahkan berhenti menyerap pasokan.

‎Meski demikian, pasokan dari pemotongan hewan tetap berjalan. Setiap hari, puluhan lembar kulit masih masuk ke gudang. Tanpa pembeli, kulit-kulit itu hanya tersimpan hingga kualitasnya menurun dan tak lagi bernilai jual.

‎Dampak kondisi tersebut tak hanya dirasakan pelaku usaha, tetapi juga para pekerja. Islam mengaku khawatir harus mengambil keputusan berat jika situasi tak kunjung membaik.

‎“Yang saya pikirkan bukan cuma usaha, tapi juga karyawan. Mereka hidup dari sini,” ujarnya.

‎Ia berharap ada perhatian dari pemerintah daerah, khususnya dinas terkait, untuk membantu membuka akses pasar baru atau mendorong kembali industri hilir kerajinan kulit melalui pembinaan dan promosi.

‎Tekanan ekonomi ini juga dirasakan para pengecer kecil. Endang, salah seorang pengecer kulit domba, mengatakan aktivitas jual belinya ikut menurun. Ia kini kesulitan mendapatkan kulit dari tempat pemotongan hewan, sekaligus menghadapi penurunan harga.

‎“Sekarang dapat lima lembar sehari saja sudah bagus. Dulu bisa dua kali lipat,” kata Endang.

‎Harga jual kulit domba pun mengalami penurunan signifikan. Jika sebelumnya berkisar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per lembar, kini hanya sekitar Rp15 ribu, tergantung kondisi.

‎“Pendapatan jelas turun. Barang susah, harga juga jatuh,” ungkapnya. (yat)


Related Articles

Back to top button