
PURWKARTA, RAKA – Wacana gentengisasi besutan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menjadi harapan baru bagi pelaku industri genteng tanah liat di Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta.
Di tengah lesunya industri tradisional akibat gempuran material atap modern, kebijakan tersebut berpotensi menghidupkan kembali sektor usaha yang nyaris mati.
Selama beberapa tahun terakhir, industri genteng tanah liat di Plered mengalami kemerosotan signifikan. Persaingan dengan baja ringan, genteng metal, hingga beton membuat pasar genteng tradisional semakin menyempit. Akibatnya, ratusan unit usaha yang dulu berjaya kini menyusut drastis.
Salah satu pengusaha genteng tanah liat Plered, Diki Zulkifli Permana, mengatakan pernyataan Presiden Prabowo menjadi angin segar bagi para pengrajin yang masih bertahan.
Baca Juga: Awas Lalai Kelola Sampah
“Kami menyambut optimistis pernyataan Presiden soal gentengisasi nasional. Harapannya bukan sekadar wacana, tapi benar-benar ada realisasi sampai ke daerah,” kata Diki, Jumat (6/2).
Menurut Diki, saat ini jumlah industri genteng tanah liat di Plered tersisa sekitar 20 unit dari ratusan yang pernah beroperasi. Ia menilai kemunduran tersebut bukan karena kualitas produk, melainkan perubahan tren pasar.
“Dari segi kualitas, genteng tanah liat sebenarnya unggul karena rumah jadi lebih sejuk. Tapi sekarang kalah tren dengan baja ringan dan genteng metal,” ujarnya.
Ia berharap kebijakan gentengisasi dapat terimplemntasi secara berjenjang oleh pemerintah daerah.
Tonton Juga: Jalan Parakan Langganan Banjir
“Mudah-mudahan kebijakan ini turun sampai ke gubernur, bupati, camat, bahkan des,” imbuhnya.
Kepala UPTD Pengembangan Sentra Keramik Plered DKUPP Kabupaten Purwakarta, Mumun Maemunah. Ia menilai gagasan Presiden Prabowo bisa menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali industri genteng tradisional.
“Kami sangat mendukung gagasan Pak Presiden. Gentengisasi nasional bisa menjadi pemicu kebangkitan industri genteng tanah liat di Plered,” ujar Mumun.
Mumun menjelaskan, menurunnya minat pasar membuat banyak pengrajin berhenti berproduksi, padahal Plered—khususnya Desa Citeko—memiliki sejarah panjang sebagai sentra genteng tanah liat.
“Dulu Plered dikenal sebagai sentra genteng terbesar di Purwakarta. Sekarang pengrajinnya jauh berkurang karena kalah bersaing dengan material modern,” katanya.
Ia berharap, jika kebijakan gentengisasi benar-benar terealisasi, para pengrajin yang sempat berhenti dapat kembali berproduksi dan memanfaatkan potensi desa.
“Kalau ada dukungan kebijakan, pengrajin bisa kembali aktif dan ekonomi masyarakat lokal ikut bergerak,” ucapnya.
Sebagai informasi, Kecamatan Plered sejak puluhan tahun lalu tidak hanya terkenal sebagai sentra gerabah, tetapi juga sebagai pusat produksi genteng tanah liat yang pemasarannya menjangkau berbagai daerah di Jawa Barat hingga luar provinsi. (yat)



