
KARAWANG, RAKA – Honor daerah untuk guru ngaji, amil dan marbot merupakan bentuk perhatian dari pemerintah daerah. Insentif tersebut setiap tahun diberikan menjelang lebaran untuk membantu mereka membeli kebutuhan sehari-hari. Namun, ada saja oknum yang meminta bagian dari uang senilai Rp750 ribu yang diterima oleh marbot itu.
Meski bahasa yang digunakan masih halus, yaitu “mau memberi silahkan, tidak memberi enggak apa-apa.” Itu dialami oleh salah satu marbot di Kotabaru yang meminta namanya dirahasiakan. Dia bercerita, tahun lalu didaftarkan sebagai salah satu penerima manfaat dari program insentif daerah untuk marbot dan guru ngaji. Setelah ada pencairan, dia diminta Rp100 ribu sebagai pengganti uang administrasi saat pendaftaran.
“Tahun kemarin pas nerima langsung diminta Rp100 ribu,” katanya kepada Radar Karawang, kemarin.
Tahun ini, dia kembali mendapat jatah sebagai penerima dari program tersebut. Saat diminta berkas persyaratan, dia sudah diingatkan untuk tidak lupa memberikan bagian kepada oknum tersebut.
“Kemarin pas ngasihin berkas sudah bilang, jangan lupa adminnya,” ujar dia.
Saat menerima insentif tersebut pada 1 Mei, lanjut dia, oknum yang tahun lalu pernah meminta jatah itu kembali memintanya. Tetapi tidak memaksa.
“Sekarang mah keterima semua Rp750 ribu. Ada minta tapi gak saya gubris. Bilangnya kalau mau ngasih mangga, tapi saya bilang saja uangnya sudah habis,” ungkapnya.
Saat dikonfirmasi mengenai adanya oknum yang melakukan pemotongan terhadap penerima, Kabag Kesra Setda Karawang Matin Abdul Rajak mengatakan, pembagian dilakukan kepada penerima secara langsung. Terkait adanya pemotongan, bisa jadi pemotongan tersebut untuk mengganti biaya pembuatan proposal dan pembelian materai.
“Siapa yang motongnya. Bisa jadi karena ada pengeluaran materai. Materai saja tiga, belum lagi ngetik, wajar ada pemotongan untuk beli materai dan sebagainya,” ujarnya. (nce)