
KARAWANG, RAKA – Keberadaan gay atau suka sesama jenis di Karawang jelas adanya, bahkan mereka dapat mencari mangsanya secara bebas melalui aplikasi.
Lelaki gay itu berinisial B PMJ. Ia mulai tertarik untuk melakukan hubungan sex bebas ketika lulus sekolah dan berawal dari adanya pancingan dari teman. Kemudian menjadi berlanjut ketika telah memasuki dunia kerja. Dirinya mengaku saat terlalu sering melakukan hal itu, maka timbul rasa jenuh dan menghapus aplikasi serta menjauhi komunitas selama 3 hingga 6 bulan. Kemudian keinginan itu timbul lagi saat sedang tidak ada aktivitas.
“Awalnya tahu itu setelah lulus sekolah, aku dipancing sama teman lalu ketagihan untuk melakukan oral. Akses lebih mudah ketika bekerja di perusahaan yang ada di kawasan, aku bukan hanya cowo aja tapi sama cewe juga. Saat sudah bosan aplikasi di hapus selama 3 sampai 6 bulan, tapi kalau udah jenuh akhirnya download lagi dan berdekatan lagi dengan komunitas yang seperti itu,” ujarnya Senin (14/10).
Ia mengaku melalui hubungan tersebut mendapatkan banyak teman diskusi. Ketergantungan itu dirasakan selama 3 hingga 4 tahun. Kemudian sekarang ini mulai perlahan mengurangi saat telah bergabung di lembaga. Kini hanya bermain dengan jarak 3 hingga 4 bulan sekali.
“Saya ingin mencari teman, kalau ranahnya terlalu seks akan langsung dijauhi tapi kalau yang bisa diajak sharing dan diskusi masih berkomunikasi. Akhirnya berpikir dan ada teman yang memperkenalkan lembaga ini ke saya, setelah itu jadi pilih-pilih dulu kalau mau diajak main. Sekarang 3 sampai 4 bulan sekali, kalau dulu satu Minggu sekali,” tambahnya.
Kriteria mangsa pria yang diincar ketika awal terjun di usia yang sama, namun sekarang lebih sering dengan usia yang berada di bawah. Kemudian untuk target perempuan lebih menyukai yang memiliki jarak usia 2 tahun lebih muda. Ketika sedang melakukan hal tersebut. B PMJ tidak langsung ingin hubungan sex, namun Ia mengajak pasangannya untuk makan, jalan-jalan dan menonton bioskop terlebih dahulu.
“Kalau ke cewe sukanya jarak usia 2 tahun tapi cowo seumuran. Sekarang justru tertarik cowo yang usianya di bawah aku. Orang yang sudah sering bermain seperti itu pasti sudah mengerti cara mendekati. Saya itu dibeli, manfaatkan untuk ajak nonton dan makan dulu baru mau tapi tidak memasang tarif. Saat bertugas tidak ada timbul keinginan karena lelah, jadi seks itu dibutuhkan saat lagi senang,” imbuhnya.
Salah satu petugas lembaga yang tidak ingin disebutkan namanya menyampaikan mengenal dirinya ketika akhir tahun 2022 saat ada pertemuan pendidik sebaya. Kemudian saat itu B PMJ dinilai sebagai seorang yang aktif dan mempunyai komunikasi yang baik, maka dari itu menjadi bahan penilaian untuk menariknya menjadi relawan.
“Ada pertemuan pendidik sebaya yang diadakan teman LSM di tahun 2022 akhir dan saat itu kita melihat yang bisa diajak menjadi relawan. Akhirnya kita pilih karena aktif, banyak tanya, bisa berkomunikasi. Sudah tahu karena memang itu pertemuan pendidik sebaya komunitas LSM. Masyarakat umum tidak tahu karena kami rahasiakan latar belakangnya,” ungkapnya.
Ia menegaskan pihak lembaga tidak melegalkan adanya LGBT. Meski begitu masih membutuhkan peran dari komunitas untuk ikut serta dalam menangani kasus.
“Tidak melegalkan LGBT, untuk keberadaan LGBT nya tetap diakui. Kami melibatkan komunitas dibawah naungan LSM untuk dijadikan relawan. Ada rasa khawatir, tetapi kembali lagi program tetap harus berjalan kalau tidak melibatkan komunitas akan sulit mencapai target,” tutupnya (nad)