Karawang

Turis Dirawat di RSUD, Keluarga Pasien Bisa Jalan-jalan

KARAWANG, RAKA – Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin meresmikan reviltalisasi dan transformasi center of excellent Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Karawang.
Pelaksana tugas Direkur Utama, Fitra Hergyana, menyampaikan setelah melakukan pembaharuan beberapa fasilitas dan pelayanan dari tahun 2022 lalu, kini RSUD telah menyiapkan pelayanan medical tourism bagi turis lokal Indonesia dan luar negeri. Sistem pelayanan ini ketika terdapat turis yang perlu mendapatkan penanganan kesehatan, maka dapat diberikan perawatan di RSUD Karawang, kemudian untuk keluarga pasien akan diberikan pelayanan menikmati wisata di Kabupaten Karawang. “Medical tourism ini berkoordinasi dengan dinas dan Kementrian Pariwisata dan Kebudayaan, jadi turis dari luar Karawang dan luar negeri yang sakit bisa berobat di RSUD dan keluarga pasien bisa berwisata di Kabupaten Karawang. Seperti bisa berkunjung ke Candi Jiwa, membatik, wisata di wilayah selatan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelayanan ini sebagai salah satu cara dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Karawang. Selain menyediakan pelayanan terbaru tersebut, ia menyebutkan telah ada sebanyak 10 orang dokter umum saat ini sedang melanjutkan pendidikan di tingkat spesialis. Kemudian ada pula dokter spesialis yang telah disekolahkan ke jenjang sub spesialis. “Kita akan membahas untuk penyediaan tour guide, tujuan kita untuk meningkatkan PAD Karawang juga. Alhamdulillah salah satu program kita juga meningkatkan SDM, sudah ada 10 dokter umum asli Karawang untuk sekolah spesialis dan untuk dokter spesialis sudah kami sekolahkan ke sub spesialis,” tambahnya.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, adanya upaya revitalisasi dan transformasi yang telah dilakukan oleh RSUD Karawang diharapkan dapat meningkatkan pelayanan katastropik bagi masyarakat Provinsi Jawa Barat. Hal ini karena RSUD telah menjadi Rumah Sakit rujukan di tingkat provinsi. Ia menegaskan bahwa saat ini Indonesia sedang dalam menangani penyakit katastropik yang menimbulkan angka kematian meningkat dan biaya pengobatan menjadi meningkat. “Orang sakit di Indonesia itu rangking pertamanya stroke, lalu jantung dan cancer. Kita kerjanya harus berbasis prioritas. Jadi harus beresin stroke dulu,” ungkapnya.
Berdasarkan catatannya, dari 514 kabupaten/kota di Indonesia, baru 44 kota yang bisa menangani stroke di periode emasnya (golden period). Hal itu terjadi karena supply side antara SDM Kesehatan dan alat kesehatan tidak seimbang. Ia menilai upaya dari RSUD dapat diberikan kepada rumah sakit yang lain untuk dapat mengembangkan pelayanan. “Tugas RSUD Karawang jangan hanya bekerja ditempatnya sendiri, harus bisa mengampu dan mentransfer kemampuannya ke rumah sakit lain di Provinsi Jawa Barat,” tutupnya. (nad)

Related Articles

Back to top button