
PURWAKARTA, RAKA – Fenomena kematian massal ikan kembali terjadi di Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. Cuaca ekstrem yang berlangsung hampir sepekan terakhir memicu ribuan ikan mas mati mendadak di kawasan Keramba Jaring Apung (KJA), menimbulkan bau anyir menyengat dan kerugian besar bagi para petani ikan.
Ikan-ikan mengambang di permukaan air pada Jumat (23/1), sebagian masih tampak segar dengan sisik berkilau, namun tak sedikit pula yang sudah membusuk. Kondisi tersebut mengundang sejumlah warga sekitar untuk mendatangi KJA dan mengambil ikan mati yang masih layak dikonsumsi agar tidak terbuang percuma.
Salah seorang warga Desa Kembang Kuning, Kecamatan Jatiluhur, Aan (46), mengatakan ikan yang diambil bukan untuk diperjualbelikan, melainkan dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga. Menurutnya, ikan tersebut tidak mati akibat racun sehingga masih aman dikonsumsi.
“Daripada mubazir, yang masih bisa dimanfaatkan ya kita manfaatkan,” ujar Aan, Jumat (23/1).
Ia menambahkan bahwa pengambilan ikan tetap dibatasi sesuai ketentuan yang berlaku. “Enggak boleh banyak-banyak. Ada aturannya. Ini juga paling sekitar delapan kilo saja,” katanya.
Kematian massal ikan ini diketahui dipicu oleh fenomena upwelling atau umbalan akibat cuaca buruk. Hujan deras yang disertai mendung tebal tanpa sinar matahari menyebabkan air dingin dari dasar waduk yang miskin oksigen naik ke permukaan, sehingga ikan tidak mampu bertahan hidup.
Dampak dari peristiwa tersebut sangat dirasakan para petani KJA. Ratusan kilogram hingga berton-ton ikan air tawar mati dalam waktu singkat.
Salah satu petani KJA, Roni, pengelola Kolam Jaring Apung SGH di Desa Panyindangan, Kecamatan Sukatani, mengungkapkan bahwa kematian ikan di kolamnya mulai terjadi sejak Kamis (22/1) malam.
“Di tempat saya ini baru semalam. Tapi di blok lain sudah dua hari sebelumnya. Di kolam saya saja yang mati hampir satu ton,” kata Roni.
Ia menjelaskan bahwa penurunan suhu air secara drastis membuat kualitas air memburuk. Air dari dasar waduk yang naik ke permukaan memiliki kadar oksigen rendah sehingga ikan tidak kuat bertahan.
“Air dari bawah itu sudah jelek, oksigennya kurang. Ikan enggak kuat, akhirnya mati semua,” ujarnya.
Di lokasi KJA SGH, sedikitnya terdapat 32 petak kolam jaring apung yang terdampak. Ikan-ikan yang mati sebagian besar masih berusia sekitar satu hingga satu setengah bulan, jauh dari usia panen ideal yang biasanya mencapai dua setengah hingga tiga bulan.
Akibat kejadian tersebut, Roni memperkirakan kerugian yang dialaminya mencapai sekitar Rp100 juta. Ia menyebut hampir seluruh wilayah KJA Waduk Jatiluhur terdampak, meski waktu kematian ikan berbeda-beda di setiap blok.
“Di Jatiluhur hampir semua kena. Dua hari lalu di blok barat dulu, sekarang menyebar ke sini,” ucapnya.
Upaya antisipasi dinilai belum efektif. Pemindahan ikan ke kolam lain tidak menjamin keselamatan karena kondisi air yang sama.“Dipindahkan juga tetap mati, karena airnya sama. Air bau itu turun ke bawah, lalu mengendap,” katanya.
Untuk mengurangi kerugian, sebagian bangkai ikan mas dimanfaatkan sebagai pakan ikan patin. Sementara ikan yang masih hidup namun sekarat tidak dapat dipasarkan karena ukuran yang terlalu kecil dan kualitas yang menurun.
Roni berharap pemerintah dapat memberikan perhatian serius serta solusi jangka panjang agar kejadian serupa tidak terus berulang dan merugikan para petani KJA di Waduk Jatiluhur. (yat)



