Kisah Andri Saputera Warga Purwakarta yang Berjuang Mandiri di Tengah Keterbatasan Penglihatan

PURWAKARTA, RAKA – Andri Saputera (37) tahun, warga Desa Lebakanyar, Kecamatan Pasawahan, Purwakarta, yang bertahan hidup mandiri di tengah keterbatasan penglihatan sejak kecil.
Awalnya Andri lahir dengan keadaan normal. Namun di usia dini penyakit glaukoma terus menggerogoti penglihatannya.
Sejak itu berbagai upaya pengobatan terus ia jalani. Meski hasilnya tak sesuai yang diharapkan.
Kini, Andri harus menerima kenyataan pahit. Mata kirinya sudah tidak dapat melihat sama sekali, sementara mata kanannya mengalami gangguan berat sehingga tidak mampu melihat dengan jelas. Kondisi tersebut membuat sebagian besar aktivitasnya di dalam rumah.
Baca Juga: Petani Menyusut 7,4 Persen, Pemkab Purwakarta Siapkan Generasi Milenial Lewat Edukasi Pertanian
Meski demikian, Andri menolak menyerah pada keadaan. Ia memilih bertahan dan terus berjuang, meskipun harus hidup seorang diri dan belum berumah tangga. Untuk kebutuhan sehari-hari, Andri masih bergantung pada bantuan keluarga yang berada di luar daerah Purwakarta.
Ketergantungan itu justru menjadi beban batin baginya. Ia mengaku tidak nyaman jika harus terus mengandalkan bantuan orang lain.
“Saya tidak ingin jadi beban keluarga. Saya ingin punya keahlian supaya bisa menghidupi diri sendiri,” ujar Andri, beberapa waktu lalu.
Menurut Andri, keterbatasan penglihatan memaksanya beradaptasi dalam banyak hal. Namun di balik itu, ia menjadikan kondisi tersebut sebagai pemicu semangat untuk tetap bertahan dan bangkit.
Tonton Juga: Taman Cadas Malang Tak Terurus Lagi
Ia mengungkapkan keinginannya untuk mendapatkan pelatihan keterampilan yang sesuai bagi penyandang tunanetra. Selama ini, keterbatasan informasi menjadi kendala utama baginya untuk berkembang.
“Saya sebenarnya ingin ikut pelatihan, tapi tidak tahu harus ke mana dan dari mana informasinya. Padahal banyak teman-teman disabilitas yang mau belajar dan bekerja,” tuturnya.
Andri menilai, pelatihan keterampilan seperti pijat, kewirausahaan, kerajinan tangan, hingga pemanfaatan teknologi ramah disabilitas sangat dibutuhkan oleh penyandang tunanetra.
Dengan pendampingan yang tepat, ia meyakini kaum disabilitas memiliki potensi besar untuk hidup mandiri dan bermartabat.
Kisah Andri menjadi gambaran nyata bahwa keterbatasan fisik bukanlah akhir dari segalanya. Dukungan pelatihan, akses informasi, dan perhatian dari berbagai pihak dinilai sangat penting untuk membuka jalan kemandirian bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Purwakarta. (yat)



