Purwakarta
Trending

Kisah Haru Ardi, Penjaga Perlintasan KA di Purwakarta: Lebaran Tanpa Keluarga Demi Jaga Nyawa Orang Lain

PURWAKARTA, RAKA – Ketika mayoritas warga larut dalam hangatnya suasana Idul Fitri 1447 H/2026 M, lengkap dengan pelukan keluarga dan hidangan khas Lebaran, ada satu sosok yang justru memilih atau lebih tepatnya harus tetap berjaga. Bukan di ruang tamu, melainkan di pos sempit perlintasan kereta api.

Dialah Ardi Pratama Putra (23), warga Munjul Jaya, Kabupaten Purwakarta, yang menghabiskan hari raya di pos penjaga palang perlintasan kereta api Rawa Roko, wilayah Tegalmunjul.

Bahkan saat gema takbir berkumandang kemarin, Ardi tetap siaga, memastikan tak ada nyawa yang melayang akibat kelalaian di perlintasan.

Bagi sebagian orang, momen Lebaran adalah waktu untuk pulang. Namun bagi Ardi, Lebaran justru menjadi ujian tentang seberapa kuat ia memegang tanggung jawab.

Sudah empat tahun ia menjalani profesi sebagai penjaga palang perlintasan. Empat tahun pula ia terbiasa merayakan Lebaran tanpa kebersamaan keluarga. Ia tidak pulang kampung, tidak bersalaman dengan sanak saudara, dan tidak menikmati momen kumpul seperti kebanyakan orang.

Ardi mengakui, ada rasa yang tak bisa dibohongi setiap kali hari raya tiba. Namun ia memilih untuk tetap berdiri di posnya.

“Rasanya pasti ada suka dan duka. Sukanya, saya bisa menjaga keselamatan perjalanan kereta api dan pengendara. Tapi dukanya, ya itu, tidak bisa kumpul sama keluarga saat Lebaran,” ucap Ardi, Selasa (24/3).

Ucapan itu sederhana, tapi menyimpan beban yang tidak ringan. Sebab di balik pekerjaannya, ada tanggung jawab besar yang tak bisa ditinggalkan begitu saja.

Di perlintasan JPL 224 tempat ia bertugas, waktu berjalan dengan ritme yang berbeda. Tidak ada ruang untuk lengah. Setiap suara sirine, getaran rel, hingga deru kendaraan menjadi sinyal yang harus ditangkap dengan penuh kewaspadaan.

Ia tidak sekadar membuka dan menutup palang. Ia menjaga batas antara selamat dan celaka.
Dalam kesunyian pos jaga, Ardi menukar momen Lebaran dengan kewaspadaan tanpa henti. Ia sadar, satu detik kelalaian bisa berujung fatal.

Meski masih lajang dan belum memiliki tanggungan keluarga sendiri, Ardi mengaku telah menerima konsekuensi dari pekerjaannya. Ia menempatkan keselamatan masyarakat di atas kepentingan pribadi.

Secara tidak langsung, ia juga menyampaikan harapannya agar masyarakat tidak menganggap remeh perlintasan kereta api. Menurutnya, kesadaran pengguna jalan masih menjadi tantangan terbesar di lapangan.

“Keselamatan itu bukan cuma tanggung jawab petugas. Pengendara juga harus sadar, jangan nerobos palang kalau kereta mau lewat,” tegasnya.

Kisah Ardi menjadi potret lain dari Lebaran yang jarang terlihat. Di saat banyak orang menikmati libur, ada mereka yang tetap bekerja dalam diam, memastikan semua orang bisa sampai ke tujuan dengan selamat.

Lebaran mungkin tentang kebersamaan. Tapi bagi Ardi, Lebaran adalah tentang pengorbanan dan menjaga nyawa orang lain agar tetap utuh sampai ke rumahnya masing-masing. (yat)

Related Articles

Back to top button