Kisah Syekh Baing Yusuf: Hafal Al-Qur’an Usia 12 Tahun hingga Jadi Tokoh Penyebar Islam di Purwakarta

PURWAKARTA, RAKA – Siapa yang tak kenal sosok ulama, penghafal Al-qur’an sekaligus tokoh penyebar agama Islam, Raden H Moch Yusuf atau terkenal dengan nama Baing Yusuf Purwakarta.
Melansir dari website Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Purwakarta, Syekh Baing Yusuf lahir sekitar tahun 1700-an di Bogor, Jawa Barat.
Di usia 12 tahun, Syekh Baing Yusuf sudah hafal Al-Qur’an.
Konon sejak kecil juga beliau terkenal sebagai orang cerdas, dan mampu berbahasa arab dengan fasih.
Pada tahun 1820, Syekh Baing Yusuf datang ke Purwakarta untuk menyebarkan agama Islam. Saat itu, pusat pemerintahan Karawang berada di Wanayasa, Wilayah Selatan Purwakarta.
Baca Juga: Petani Menyusut 7,4 Persen, Pemkab Purwakarta Siapkan Generasi Milenial Lewat Edukasi Pertanian
Pada tahun 1826, Baing Yusuf mendirikan masjid sekaligus tempat syiar agama Islam di wilayah yang saat ini menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Purwakarta. Sekarang Masjid Agung Purwakarta dekat kantor bupati dan lembaga pemasyarakatan kelas II B.
Tidak lama setelah pembangunan Masjid Agung, pusat pemerintahan berpindah dari Wanayasa ke Purwakarta sekitar tahun 1830-an. Sehingga keberadaan masjid Agung ini sangat strategis.
Selama hidupnya Baing Yusuf pernah berguru ke Syekh Campaka atau Pangeran Diponegoro. Beliau juga memiliki banyak murid, misalnya Syekh Nawawi Al- Bantani, yang terkenal sebagai pengarang kitab asal Banten.
Tonton Juga: Sueharto, The Smiling General
Menurut sumber lain, Syekh Baing Yusuf merupakan seorang ulama keturunan keraton Padjajaran. Beliau lahir tahun 1709, dan wafat pada tahun 1854. Makam Syekh Baing Yusuf berada di kompleks Masjid Agung Purwakarta.
Terdapat beberapa peninggalan beliau yang masih tersimpan, di antaranya kitab fikih dan tasawuf berbahasa arab dan sunda, dan sebuah pedang khutbah.
Makam Syekh Baing Yusuf selalu menjadi buruan bagi para peziarah, terutama di bulan Maulid nabi, dan bulan Rajab hingga menjelang bulan suci Ramadan. Peziarah itu datang dari berbagai daerah. Bukan hanya warga Jawa Barat.
“Di sini gratis. Siapa pun bisa berziarah dan beribadah dengan nyaman,” kata Pengurus Makam Syekh Baing Yusuf, Ustaz Maman. (yat/mra)



