Buteka Kembangkan UMKM Bunga Tekan

PAMERKAN PRODUK : Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah asal Kecamatan Ciampel tengah memamerkan produk UMKM berupa bunga tekan yang ditempel ke perkakas rumah tangga.

CIAMPEL, RAKA – Kerajinan bunga tekan mempunyai potensi nilai ekonomi bagi masyarakat desa. Contohnya adalah UMKM Buteka di Dusun Cidampa, Desa Kutanegara, Kecamatan Ciampel yang sudah tiga tahun ini memproduksi berbagai motif kerajinan dengan teknik oshibana.
Kerajinan yang digeluti warga itu adalah merangkai hiasan bunga dan dedaunan yang dikeringkan dengan cara ditekan.

Pemilik Buteka Sanih Supriatin menuturkan, usaha ini bermula dari pelatihan bunga tekan dari sebuah perusahaan bagi masyarakat setempat pada 2011 silam. Saat itu terdapat 4 kelompok di Desa Kutanegara yang mendalami bunga tekan. Namun seiring waktu kegiatan mereka kian redup. Sanih pun akhirnya memutuskan membuat rumah produksi sendiri secara mandiri pada tahun 2018.

Proses pembuatan kerajinan bunga tekan menggunakan bunga, daun, bahkan juga tangkai segar. Bunga yang sudah dipetik natinya ditata dan ditutupi dengan kertas untuk kemudin ditekan dengan kayu dan dijemur hingga kering.
Bunga yang sudah kering itu kemudian ditata kembalai menjadi motif tertentu pada media kayu, bambu, kertas, maupun kanvas dan terakhir dilapisi oleh vernis.

Buteka sendiri membuat motif dengan proses bunga tekan pada media seperti kotak tisu, cukil nasi, serta hiasan dinding dan meja berbahan kayu.
Adapula buku tamu pembatas buku serta lukisan yang menggunakan media kertas.
Selain itu, berbagai aksesoris seperti gantungan kunci, bros, dan kalung juga bisa dibuat menjadi lebih cantik dengn hiasan bunga tekan.
Berbagai kerajinan yang mereka produksi dijual dengan harga mulai dari Rp10.000 hingga Rp400.000 tergantung kerumitan, ukuran, dan media yang digunakan.

Dalam sehari, Buteka bisa memproduksi sekitar 20 produk kerajinan dibantu oleh 3 pengrajin lainnya yang juga warga setempat.
Produk mereka dipasarkan secara online marketplace atau sosial media. Sebagian produk juga dititipkan ke sejumlah toko atau gerai yang menyediakan display untuk produk kerajinan.
Buteka juga kerap mengikuti pameran dan bazar di berbagai kota. “Dari Dinas Koperasi dan UMKM suka kasih informasi kalau ada pameran,” ucapnya.

Dari pemuturan Sanih pembuatan kerajinan bunga tekan sebetulnya tidak menemui banhak kendala. Hanya saja sebagaimana kebanyakan UMKM lainnya, pemasaran menjadi masalah yang kerap dihadapi.
Sanih mengatakan, minat beli masyarakat Karawang atas karya seni belum begitu tinggi, beda halnya saat mereka mengikuti pameran di Cikarang atau Bandung dimana minat beli disana sangat tinggi. Kendala lainnya adalah omzet yang menurun saat masa pandemi corona.

Masih dikatatakan Sanih, Buteka awalnya merupakan singkatan dari ‘Bunga Tekan Kutanegara’, nama desa tempat kerajinan itu dibuat. Namun kini menjadi “Bunga Tekan Karawang” dengan harapan dapat mengangkat Karawang dengan potensi kerajinan yang ada.
Dengan nama itu juga ia berharap cakupan pasar kerajinannya dapat lebih luas lagi bahkan kalau bisa tebus pasar ekespor. “Bisa jadi oleh-oleh dari Karawang, ya mudah-mudahan pemerintah bisa bantu buat tembus ke luar negeri,” harapnya.

Selain memproduksi, Sanih juga kerap mengisi pelatihan di berbagai desa di Karawang. Peserta pelatihan bunga tekan biasanya para anggota PKK atau siswa sekolah. “Kita juga suka nerima pesanan untuk souvenir dalam jumlah banyak, mudah-mudahan semakin dikenal,” pungkasnya. (din)

Recommended For You

About the Author: Mang Raka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *