Hidup Miskin Dekat Kawasan Industri

MERANA: Dua orang warga miskin sedang meratapi nasibnya yang tidak kunjung membaik.

KLARI, RAKA – Hidup tidak jauh dari kawasan industri, ternyata tidak menjamin hidup sejahtera. Wajar, karena pemilik pabriknya bukan orang Karawang.

Warga Klari contohnya, tercatat setengahnya hidup di garis kemiskinan. Kasie Kesejahteraan Sosial (Kesos) Kecamatan Klari Asip Suhenda mengatakan, tercatat sebanyak 39.837 warga Klari mendapat bantuan program BPNT dan PKH. Tentunya hal itu menandakan bahwa masih tingginya angka kemiskinan di wilayah Kecamatan Klari. “Saya tidak mengatakan tingginya angka kemiskinan di wilayah Klari, cuma berdasarkan data yang mendapatkan program bantuan ini hampir 50%, soalnya jumlah KK warga Klari sebanyak 55.568,” ucapnya.

Ia menambahkan, namun secara perlahan rupanya angka kemiskinan tersebut mulai menurun. Hal itu dilihat dari peningkatakn perekonomian warga, misalnya yang awalnya memiliki seorang anak yang masih sekolah, kini anaknya sudah bekerja dan bisa memperbaiki perekonomian keluarganya. “Karena kita lihat setiap tahunnya jumlah yang mendapatkan program bantuan ini berkurang, tentunya ada pengajuan dari keluarga tersebut bahwa mereka sudah tidak mau menerima bantuan itu karena merasa mampu,” tambahnya.

Selain itu, tambahnya, mayoritas warga Klari berprofesi sebagai petani, sehingga pendapatan warga hanya untuk mencukupi kebutuhan makan bersama keluarganya saja. “Sebenarnya, sudah memiliki pekerjaan, cuma penghasilannya tidak seberapa, makanya masih tinggi jumlah warga yang dapat dua program bantuan ini,” katanya.

Ia mengaku, untuk menekan tingkat kemiskinan, salah satunya dengan pendidikan, dimana pendidikan akan membuat orang lebih berpikir maju dan memiliki wawasan yang luas. “Saran saya sesulit apapun, pendidikan itu penting, jangan sampai anak-anak putus sekolah, karena mereka menjadi salah satu harapan bagi orang tua untuk memperbaiki perekonomiannya,” akunya.

Sementara itu, Sukarna Feri, warga Desa Cimahi, Kecamatan Curug mengungkapkan, menjadi salah satu warga yang mendapatkan bantuan program sosial karena profesinya sebagai buruh tani hanya bisa mencukupi kebutuhan makan keluarga. “Ya cuma cukup buat makan saja, kadang anak saya nggak saya kasih jajan, cuma saya tidak akan membiarkan anak saya putus sekolah, itu semua demi masa depan anak saya nanti,” pungkasnya. (mal)

Recommended For You

About the Author: Mang Raka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *