Wow, Sampah Kalijurang Kayak Gunung

PURWASARI, RAKA – Sekantung demi sekantung lama-lama menjadi gunung, begitulah kiranya pepatah yang tepat untuk menggambarkan kondisi tumpukkan sampah di tanah kosong tepian Lapangan Kalijurang, Desa Purwasari, Kecamatan Purwasari, Kamis (16/9). Berdasarkan informasi yang dihimpun, sudah belasan tahun warga sekitar Lapangan Kalijurang membuang sampah sembarangan di tanah kosong tersebut.

Radar Karawang menemui seorang pemilik warung yang tak jauh dari lokasi tumpukan sampah, Nasir (50), ia mengaku sebagai kerabat dan orang kepercaryaan dari sang pemilik tanah kosong. Nasir menuturkan, tumpukan sampah itu sebagian besar ulah warga Kampung Warung Kebon yang tak punya tempat penampungan sampah. Sebagian kecil ulah beberapa warga Kampung Kalijurang, warga Perumahan Panorama dan warga Perumahan Camelia. “Mereka buang sampah sembarangan, ini bukan tempat penampungan sampah, ini tanah Pak Haji Jenan (orang yang diakui sebagai kerabatanya),” tutur Nasir.

Masih berdasarkan pengakuan Nasir, bersama seorang temannya setiap malam membakar tumpukan sambah agar tidak semakin menggunung. Ia merasa terganggu dengan keberadaan tumpukan sampah karena setiap musim hujan menimbulkan bau tidak sedap. “Kalau musim hujan orang disini (Kampung Klaijurang) juga pada komplain karena bau. Kadang-kadang mereka buangnya bukan sampah doang, ada bangkai tikus, bangkai kucing dibuang kesana,” keluhnya.

Nasir juga menyatakan, sering menegur warga yang buang sampah sembarangan, namun kebanyakan mereka sulit untuk dinasihati dan malah balik memarahi dan melawan. Ia juga mengaku telah menyatakan keberatakan kepada wakil dusun, namun sampai saat ini tidak ada tangapan pasti. “Dulu pernah dijanjikan dibuatkan papan peringatan dari desa agar tidak buang sampah kesini, tapi tetap saja sampai sekarang tidak ada. Kalau saya yang bikin (papan peringatan) kan besoknya ada yang mencabut, sudah sering seperti itu,” tambahnya.

Haryati (42), warga Kampung Warung Kebon yang telah 14 tahun tinggal di kampung tersebut menceritakan. Sejak dulu memang warga di lingkungannya membuang sampah di tanah kosong tersebut. Haryati sendiri tahu tanah kosong tersebut milik pribadi, bukan tempat penampungan sampah yang semestinya. Namun ia tetap membuang sampah ke lokasi tersebut jika sampah rumah tangganya sudah bau. Ia tidak begitu tahu apakah sudah ada arahan dari Pihak Desa Purwasari untuk membuat tempat penampungan sampah. Namun menurutnya, tanah kosong itulah tempat penampungan sampah yang sementara ada. “Selagi belum ada bangunan mah ya pastinya (buang sampah) disana, ya mungkin sementara disitu dulu,” katanya.

Warga Kampung Warung Kebon lainnya, Tati (48) mengatakan, belum ada larangan dari pihak desa. Tidak ada dampak apapun yang dikeluhkan warga Warung Kebon sebab lokasi tumpukan sampah tersebut cukup jauh dari pemukiman tempatnya tinggal. Bahkan menurutnya, tumpukan sampah tersebut bermanfaat untuk meratakan tanah. “Itukan tanah dulunya legok (cekung), dalam sekali kalau dari pinggir jalan. Kalau sekarang kan tanahnya sudah tinggi karena sisa pembakaran sampah,” katanya.

Sementara itu Kepala Desa Purwasari, Asep Saepulloh memberi tanggapan, sudah diintruksikan kepada setiap RW untuk melakukan swadaya masyarakat guna menyediakan tempat penampungan sampah sementara beserta pengelolaannya. Namun warga Kampung Warung Kebon sulit diarahkan karena enggan mengeluarkan uang iuran. Ia juga menghimbau Warga Warung Kebon untuk segera bermusyawarah karena mengelola sampah secara mandiri adalah kewajiban setiap lingkungan pemukiman. “Kalau di Kampung Sadang dan Pegadungan sudah ada tempat penampungannya, mereka mau iuran, nanti sampahnya diangkut ke tempat pembuangan sampah akhir di Cikampek (Jalupang Kotabaru),” jelasnya. (mg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here